Lolita Wardah

Pijar, Medan. Istilah imposter akhir-akhir ini lebih sering didengar karena viralnya game online Among Us yang dimainkan oleh generasi Z. Dalam game tersebut, imposter bertugas sebagai penipu yang kemudian akan mengacaukan permainan tanpa ketahuan, dan akan membunuh pemain yang lainnya.

Tak hanya di Among Us, di dunia psikologi terdapat juga yang namanya imposter yaitu imposter syndrome atau dengan istilah lain disebut sindrom penipu. Imposter syndrome merupakan suatu istilah yang menjelaskan mengenai pola perilaku seseorang yang kerap meragukan atau merasa tidak percaya diri dalam meraih pencapaian dan kesuksesann dirinya.

Sindrom yang termasuk kedalam gangguan psikologis ini, merupakan suatu gejala yang dirasakan oleh si cerdas yang merasa bahwa ia tidak pantas mendapatkan suatu penghargaan dan tidak percaya akan kemampuan hebat yang ia miliki. Alhasil, pelaku imposter syndrome akan merasa bahwa ia telah menipu banyak orang. Kemudian ia merasakan ketakutan yang berulang-ulang akan dikatakan sebagai ‘penipu’.

Fenomena imposter syndrome ini pertama kali muncul pada tahun 1978 oleh Psikolog Rose Clance dan Suzzane. Pada masa awal penelitian ini dijelaskan bahwa sindrom tersebut hanya dijumpai pada wanita-wanita cerdas yang memiliki pencapaian prestasi yang tinggi. Kemudian, penelitian terus berkembang dari tahun ke tahun yang semakin menjelaskan bahwa sindrom ini tidak hanya ditemukan pada wanita saja, melainkan juga ditemukan pada pria.

Jika kesuksesan yang kita raih seharusnya menjadi suatu nikmat yang besar, berbeda dengan yang dirasakan oleh pelaku imposter syndrome. Mereka akan merasa bahwa kesuksesan yang telah diraih hanya suatu keberuntungan atau ketidaksengajaan saja. Sehingga, sering kali mereka menemukan pikiran-pikiran negatif yang bersarang di pikiran mereka, dan akan disusul dengan datangnya stress, kecemasan, bahkan depresi.

Akibat pemikiran-pemikiran tersebut, pelaku imposter syndrome takut sekali mencoba hal-hal baru di hidupnya. Ia akan berpikir beribu kali dalam melalukan suatu hal, mereka juga akan merasakan ketakutan membuat kesalahan, mendapat komentar negatif, dan mengalami suatu kegagalan.

Banyaknya faktor-faktor yang membentuk pribadi seseorang sehingga mengalami imposter syndrome ini. Pertama, latar belakang masa kecil. Pola asuh keluarga yang menanamkan suatu pencapaian intelektual di atas segalanya dan tidak mengapresiasi yang dilakukan oleh sang anak tersebut. Sehingga, pola asuh yang tidak mengajarkan pada anak bagaimana merespon kesuksesaan atau kegagalan akan menanamkan bibit unggul imposter syndrome didalam diri anak tersebut.

Faktor selanjutnya adanya ekspektasi yang tinggi dan tuntutan dari lingkungan masyarakat mengenai pentingnya suatu kesuksesan. Sehingga hasil dari tuntutan tersebut membuahkan pemikiran yang keliru tentang pencapaian seseorang akan sangat berharga ketika ia berhasil, dan ketika ia gagal akan menjadi tidak berharga. Sehingga imposter syndrome ini akan merasa terbebani dengan label yang menyatakan bahwa orang yang memiliki keberhasilan dan pencapaian harus memenuhi eksprektasi orang lain.

Lantas bagaimanakah menanggapi sindrom ini?

Banyak hal yang dapat dicoba untuk mengatasi imposter syndrome, seperti bercerita kepada orang-orang yang dianggap kredibel. Hal yang utama ialah menumbuhkan pola pikir bahwa kesempurnaan bukanlah hal yang utama. Orang yang memiliki imposter syndrome ini cendreung merupakan seorang yang perfeksionis. Untuk itu, pola pikir atas diri sendiri adalah kunci utama dalam mengatasi sindrom ini. Kemudian, mindset bahwa kesuksesan yang diraih bukanlah hasil dari menipu orang lain. Ubahlah pola pikir untuk mengatakan bahwa setiap orang punya bakat dan prestasi yang membanggakan.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment