Nia Nuryanti Barus

“Kita tidak akan mengerti apa yang orang lain alami sebelum kita merasakannya sendiri,” – Bumi Psikologi.

Pijar, Medan. Mungkin sebagian dari kita pernah berada dalam keadaan, di mana tidak ada seorang pun yang dapat mengerti diri kita dan merasa bahwa semua orang meninggalkan kita di saat kita sedang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Atau bahkan kita pernah berada di posisi di mana kita tidak bisa memahami perilaku orang lain pada suatu kondisi tertentu. Hal ini terjadi karena pada saat itu kita tidak sedang dalam emosi dan frekuensi yang sama dengan orang tersebut.

Mungkin pada saat itu kita sudah mencoba menceritakan masalah kita dengan harapan orang tersebut dapat memahami dan mengerti akan perasaan kita, namun yang kita terima justru sebaliknya. Seseorang akan mengerti dan memahami sesuatu ketika ia mengalami dan merasakannya sendiri, bukan sekadar mendengarkan dan membayangkan peristiwa yang kita alami. Begitu pula sebaliknya, kita akan merasa sulit memahami keputusan dan perasaan orang lain dalam menghadapi situasi tertentu. Fenomena seperti ini biasa disebut dengan istilah Hot-Cold Empathy Gap atau kesenjangan empati.

Hot-cold empathy gap atau kesenjangan empati adalah keadaan di mana ketika kita berada pada emosi yang tidak stabil (marah, sedih, dan lain sebagainya) akan sulit memahami pola pikir rasional seseorang yang memiliki emosi emosi stabil, begitupun sebaliknya. Dalam hot-cold emphaty terdapat dua tipe kondisi yang menjadi kecenderungan seseorang yaitu kondisi “Hot State” yang merupakan kondisi ketika kita berada dalam keadaan marah, sedih, kecewa, galau, lapar, dll. Kondisi yang kedua yaitu “Cold State” yang merupakan kondisi di mana kita memiliki emosi yang stabil dan berada dalam keadaan bahagia, tenang, tentram, dan lain sebagainya.

Kedua kondisi ini nantinya dapat mempengaruhi bagaimana cara kita merasakan, berpikir dan memahami perilaku dari orang lain. Contohnya ketika kita sedang berada dalam kondisi cold state dan mendengarkan sahabat kita bercerita mengenai masalah percintaannya sambil menangis, mungkin terkadang kita akan berpikir bahwa hal tersebut berlebihan, alih-alih memahami dan mengerti keadaanya, kita malah berpikir dan menyepelekannya. “Seandainya aku jadi dia, mungkin aku tidak akan berlebihan seperti itu”. Padahal hal tersebut belum tentu terjadi, bisa saja ketika kita menghadapi situasi yang sama, maka kita juga akan melakukan hal yang sama.

Begitupun sebaliknya, ketika kita berada dalam keadaan hot State dan kita bercerita kepada teman kita yang sedang berada dalam keadaan cold state maka sebaik apapun teman kita merespon cerita kita, kita akan kesulitan menerimanya dan akan berpikir bahwa dia tidak bisa memahami dan mengerti situasi kita. Hal ini dikarenakan orang tersebut dan diri kita sedang memiliki tingkat emosional dan frekuensi yang berbeda. Ketika kita berada dalam keadaan cold state kita akan merasa kesulitan untuk merasakan jika kita berada di keadaan hot state.

Nah, dengan memahami fenomena hot-cold empathy gap, Sobat Pijar diharapkan dapat memahami fenomena yang mungkin sering kita alami dan rasakan di dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungan kita dengan orang lain. Alih-alih langsung menyalahkan orang lain atas situasi yang sedang kita hadapi, lebih baik mulai memahami dan menghargai bahwa setiap orang memiliki emosional dan frekuensi yang sama dan tidak akan mungkin bisa memahami kita seutuhnya.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment