Apakah Organic Encounter atau Pertemuan Dua orang Asing Masih Mungkin Terjadi?

Hits: 3

Amanda Citra Ayu

Pijar, Medan. Kalian tim kenalan lewat media sosial atau tim kenalan lewat kejadian tak terduga? Misal kalau dilihat di film-film, kamu tidak sengaja menabrak orang lain saat di koridor. Buku-bukunya berhamburan dan kamu berusaha untuk membantunya, hingga dari situlah mulai tercipta interaksi kecil tanpa rencana. Meski terdengar klise, pertemuan seperti ini ada kalanya memberi kesan manis yang sulit dilupakan.

Pertemuan awal sederhana dalam kehidupan sehari-hari bisa melahirkan kisah yang mengesankan. Misalnya, jika tidak sengaja bersebelahan duduk di halte lalu kemudian mengobrol karena memiliki tujuan yang sama. Karena sifatnya yang tidak direncanakan dan tanpa mengharap ekspektasi tertentu, tindakan kecil seperti itu bisa terasa spesial. Kondisi seperti ini disebut sebagai Organic Encounter, yaitu pertemuan atau interaksi yang terjadi secara alami, kebetulan, dan tanpa adanya bantuan teknologi.

Konsep tersebut terasa romantis karena tidak direncanakan dan tidak saling mengenal. Ada rasa canggung sekaligus rasa penasaran yang tumbuh, sehingga memberi perasaan mengejutkan bagi hati kedua insannya. Kita tidak perlu berekspektasi jauh karena sudah terlihat dengan jelas di depan mata, hanya perlu saling mengenal lebih dalam.

Banyak yang mengira Organic Encounter adalah soal romansa, seperti yang sering muncul di drama atau film. Biasanya hal ini menggambarkan pertemuan tidak terduga, yang kemudian berkembang menjadi lebih dalam seiring dengan berjalannya waktu. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, Organic Encounter juga dapat menciptakan pertemuan alami untuk melahirkan pertemanan baru dan juga relasi pekerjaan.

Keunikan yang tercipta melalui pertemuan secara Organic Encounter membuatnya terasa istimewa dan autentik. Cara seseorang berbicara, merespons, tertawa, atau menunjukkan kepedulian yang tulus adalah bagaimana kita mengenal mereka. Kesan yang dapat dirasakan dan diterima langsung secara tatap muka. Hubungan yang muncul seringkali dianggap lebih tulus karena semuanya terasa lebih nyata.

Organic Encounter masih mungkin terjadi, meskipun frekuensinya tampak menurun. Banyak orang sekarang lebih fokus dengan aktivitas masing-masing, terutama pada gadget mereka yang memperkecil terjadinya interaksi. Meskipun demikian, tempat-tempat umum seperti kedai kopi, toko buku, konser, dan transportasi umum masih sering mempertemukan orang asing dengan cara yang tak terduga.

Kemudahan komunikasi lewat media sosial memang dinilai lebih efisien, karena kita berhubungan dengan orang baru tanpa harus menunggu “kebetulan” atau momen Organic Encounter itu terjadi. Kita bisa memilih berdasarkan minat atau preferensi kita sendiri. Dalam hal ini, muncul pertanyaan, apakah dengan berkembangnya media sosial berarti Organic Encounter sudah hilang? Tidak juga.

Perbedaannya adalah hubungan biasanya berlanjut melalui media sosial atau media komunikasi lainnya setelah pertemuan pertama itu. Dengan kata lain, pertemuan organik bisa saja belum sepenuhnya hilang karena hadirnya teknologi.

Pada akhirnya, Organic Encounter mengingatkan kita bahwa tidak setiap hubungan perlu dicari secara aktif atau direncanakan. Percakapan singkat yang tidak disengaja terkadang dapat menghasilkan perasaan yang lebih berkesan. Dari seseorang yang awalnya tampak asing, hingga seseorang yang secara bertahap menjadi bagian dari kisah hidup kita. Mungkin masih ada ruang untuk kejutan kecil seperti ini di dunia yang serba cepat saat ini.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment