Hits: 5
Josephine
Pijar, Medan. Setiap 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional. Wayang tidak hanya dilihat sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang mencerminkan karakter manusia dan masalah hidup yang masih nyata hari ini. Tanggalnya diambil dari pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2003, dengan menetapkan wayang sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia.
Anisyah Padmanila Sari, praktisi pedalangan sekaligus mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menekankan bahwa peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Baginya, wayang harus terus dijalani dan diturunkan, tidak cukup hanya dijaga bentuknya.
“Wayang akan tetap hidup ketika ia terus memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat pada zamannya,” ujarnya.
Pesan dalam wayang disampaikan melalui tokoh, dialog, simbol, musik, dan gerakan. Penonton diajak memahami persoalan melalui konflik dan perjalanan para tokohnya, bukan lewat ceramah.
Padmanila menilai hampir semua persoalan manusia hari ini bisa ditemukan bayangannya dalam lakon wayang. Ia mencontohkan perseteruan Pandawa dan Kurawa dalam Mahabharata yang memuat ambisi, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan. Persoalan tersebut tak jauh berbeda dengan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan sosial yang terjadi pada saat ini.
“Yang berubah adalah konteks dan bentuk persoalannya,” ucapnya.
Kritik itu kerap dibawakan para Punakawan. Semar dikenal bijak dan berpihak pada kebenaran, Petruk kritis sekaligus jenaka, sedangkan Bagong ceplas-ceplos mempertanyakan keadilan. Lakon Petruk Dadi Ratu bahkan menjadi bahan renungan tentang kepemimpinan. Menurut Padma, pembawaan humor membuat isu serius lebih mudah dibicarakan dalam kesenian wayang.
Di sisi lain, jarak bahasa, durasi pertunjukan, dan konvensi penyajian membuat sebagian anak muda merasa wayang asing. Wayang pun lebih sering diperkenalkan sebagai warisan yang harus dilestarikan, bukan ruang untuk dijelajahi. Padahal, kata Padma, generasi muda bisa menjadi pencipta, penafsir, dan pengembang wayang sesuai perspektif zamannya.
Di Yogyakarta, Padma mengembangkan Wayang Kebon, ruang kreatif tempatnya membuat wayang dari tanaman kering dan barang bekas dengan cerita seputar lingkungan dan keseharian. Ia memandang cara ini sebagai jalan membuka kemungkinan baru tanpa membuat semangat bercerita dan penyampaian nilai ikut hilang.
Menurut Padma, media sosial juga dapat menjadi pintu masuk untuk masyarakat mengenal lebih dalam tentang kebudayaan wayang. Ia juga menambahkan bahwa walaupun sarana media sosial efektif dalam mempopulerkan budaya wayang, tetapi media sosial tersebut tidak bisa menjadi tolok ukur dalam mencapai keberhasilan pelestarian budaya yang lebih luas.
Oleh karena itu, untuk pelestarian wayang yang berkelanjutan, Padma mengajak generasi muda untuk terlibat menjaga wayang. Peran mereka bisa beragam, seperti menonton, meneliti, menulis, membuat konten, mengarsipkan, bahkan merancang wujud baru wayang.
“Mencintai tradisi bukan berarti kita harus selalu mempertahankannya dalam satu bentuk yang sama. Kita boleh bertanya, mengkritisi, dan mengembangkan wayang sesuai dengan persoalan zaman kita. Justru dengan begitu, wayang memiliki kesempatan untuk terus hidup dan menemukan generasi penontonnya yang baru,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

