Hits: 5
Tamara Laisa Damanik
Pijar, Medan. Pernahkah seseorang datang ke hidup kita ketika semuanya terasa berantakan, lalu kehadirannya membuat kita berpikir bahwa akhirnya kita menemukan seseorang yang bisa menyembuhkan segalanya. Perasaan seperti itulah yang menjadi titik awal Olivia Rodrigo dalam “The Cure”. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang terlalu berharap bahwa cinta yang baru bisa menyembuhkan luka lama yang sebenarnya lebih dalam.
Ditulis oleh Olivia Rodrigo dan Daniel Nigro yang sekaligus sebagai produsernya, “The Cure” dirilis pada 22 Mei 2026 sebagai single kedua dari album You Seem Pretty Sad for A Girl So in Love. Sejak dirilis, lagu ini menarik perhatian karena mengangkat sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang, seperti rasa tidak aman, overthinking, dan keinginan untuk merasa cukup di mata orang lain.
Sejak awal, Olivia membawa pendengar masuk ke dalam pikiran seseorang yang terus membandingkan dirinya dengan perempuan lain. Standar yang ada dikepalanya terasa tidak pernah berhenti bergerak. Sekalipun ia merasa sudah melakukan yang terbaik, tetap saja muncul perasaan bahwa dirinya belum cukup. Kecemasan itu menghantui hingga malam, pikiran terus berputar bahkan ketenangan sulit ditemukan.
Di tengah keadaan tersebut, hadir seorang yang dianggap sebagai antidote dari segala sesuatu yang selama ini mengganggu pikiran. Namun, keyakinan tersebut perlahan runtuh. Olivia menggambarkan hal tersebut melalui kalimat berikut.
But my head is full of poison
And my heart is full of doubt
Potongan lirik ini menggambarkan seseorang yang pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif dan hatinya terus diliputi keraguan, sehingga sulit untuk merasa tenang meskipun telah mendapatkan kasih sayang dari orang lain.
Namun, semakin lagu bergulir, muncul kesadaran bahwa cinta tidak sesederhana itu.
Metafora medis menjadi salah satu bagian menarik dari “The Cure”. Olivia menggunakan visual obat, racun, luka, dan proses penyembuhan untuk menggambarkan emosional seseorang. Jika obat seharusnya membuat seseorang sembuh, dalam lagu ini obat tersebut justru tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam dirinya.
Konsep tersebut divisualisasikan dengan menarik dalam musik video yang disutradarai oleh Cat Solen dan Jaime Gerin. Olivia berada di sebuah rumah sakit yang dibuat dari kardus, seolah-olah seluruh ruangan merupakan gambaran dari pikiran sendiri. Rumah sakit biasanya identik dengan tempat mencari kesembuhan, tetapi dalam video ini tempat tersebut justru terasa seperti presentasi dari perjalanan emosional Olivia dalam mencari obat.
Tidak heran jika “The Cure” mudah di terima oleh pendengar. Lagu ini terasa relatable karena tidak menggambarkan cerita secara sempurna. Sebaliknya, Olivia memperlihatkan bahwa seseorang bisa sangat mencintai orang lain sekaligus bisa berjuang dengan dirinya sendiri.
Menemukan seseorang yang mampu memperbaiki seluruh luka yang ada bukanlah maksud dari “The Cure”. Lagu ini justru membawa pendengar memahami bahwa cinta dapat menjadi “cinta” untuk mendapatkan dukungan, tetapi tidak selalu menjadi obat untuk segala hal.
Mungkin, tidak semua luka membutuhkan orang lain untuk menyembuhkannya. Ada luka yang membutuhkan waktu, penerimaan, dan keberanian untuk menerima diri sendiri. Terkadang, menyadari bahwa seseorang bukanlah obat yang kita cari bukan berarti cintanya gagal. Bisa jadi, itu awal dari proses untuk benar-benar sembuh.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

