Hits: 13

Luan Nayoka Purba

Pijar, Medan. Almarhum adalah laki-laki yang tinggal seorang diri, tetapi mempunyai banyak sekali kosmetik wanita, pasta gigi, sikat gigi, sampo, deterjen, dan lain-lain. Semua jenis kebutuhan sehari-hari berjumlah puluhan buah. Cangkir juga ada bermacam-macam jenis, mulai dari cangkir kopi, gelas wine, cangkir plastik, mug, piring, dan alat-alat masak pun ada berbagai macam.” – halaman 32.

Dari benda-benda yang tertinggal itu, Kim Sae Byoul membaca kisah hidup seseorang yang tidak lagi mampu menceritakannya sendiri. Gambaran cerita tersebut bukanlah sebuah fiksi, semuanya berasal dari kisah hidup atau pengalaman nyata dari Kim Sae Byoul, seorang pengurus barang peninggalan dari orang-orang yang telah meninggal di Korea Selatan.

Pengalaman itu dia tuangkan dalam buku berjudul Things Left Behind: Hal-hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada, dituliskan bersama Jeon Ae Won. Buku ini menceritakan kisah nyata, dengan memperlihatkan bahwa setiap barang peninggalan orang yang sudah meninggal dapat menyimpan jejak kehidupan.

Banyak jenis kasus kematian yang diperlihatkan dalam buku ini, salah satunya adalah bunuh diri. Seorang anak yang jauh dari orang tua dengan bergelar dokter gigi memilih mengakhiri hidupnya. Di balik itu, menjadi seorang dokter gigi bukanlah impiannya, melainkan hanya pekerjaan yang dia lakukan karena memiliki tanggungan dan tanggung jawab terhadap orang tua. Profesi yang ingin dilakukannya adalah mengubah lagu, itulah impian yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun.

Selain itu, masih banyak kasus kematian lain yang korbannya memiliki masalah dalam hidupnya. Salah satunya, seperti memiliki hubungan keluarga yang renggang, hingga ketika kematiannya adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh anak cucunya. Ada juga lansia yang memilih tinggal dan mati sendirian karena tidak mau menjadi beban terhadap anaknya, bahkan ada kasus korban yang ketika masih hidup melakukan kejahatan karena rasa rindu terhadap kehangatan keluarga.

Semua kasus-kasus ini dapat disimpulkan melalui barang-barang peninggalan orang yang sudah meninggal. Dari sebuah kertas surat, harta, hingga barang aneh dapat memperlihatkan jejak kehidupan dari orang yang sudah meninggal.

Di tengah masyarakat yang semakin sibuk dan individualistis, buku ini mengingatkan bahwa kesepian tidak selalu tampak dari luar, tetapi juga melalui barang yang ditinggalkan. Seseorang bisa memiliki pekerjaan, rumah, bahkan keluarga, tetapi tetap merasa sendirian. Melalui kisah-kisah sederhana, Kim Sae Byoul mengajak para pembaca untuk lebih menghargai waktu dan hubungan kepada orang-orang terdekat sebelum semuanya menjadi penyesalan.

Sang penulis bukanlah psikolog, polisi, ataupun dokter, melainkan seseorang yang bekerja membersihkan barang-barang orang sudah meninggal. Namun, dari pekerjaan yang jarang dibicarakan inilah datang perspektif yang unik tentang kehidupan.

Pada akhirnya Things Left Behind: Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada bukanlah buku tentang kematian, tetapi justru berbicara tentang bagaimana cara kita menjalani hidup. Sebab, ketika seseorang pergi, maka yang tinggal tidak hanya pakaian dan foto lama, melainkan jejak yang pernah ia tinggalkan pada orang lain.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment