Hits: 2

Lainatus Syifa Hasibuan

Pijar, Medan. Bersediakah kita jika diajak berkelana menjelajahi masa lalu yang pahit dan kelam, serta menilik pengalaman dari sudut kehidupan yang berbeda?

Bertajuk Pasta Kacang Merah, karya ini ditulis oleh salah satu penulis asal Negeri Sakura bernama Durian Sukegawa. Berjumlah 240 halaman, Pasta Kacang Merah berhasil mendapat nominasi novel best seller internasional dan mendapat ribuan ulasan baik karena kisahnya yang menyentuh dan membangkitkan perasaan.

Kisah ini bermula dengan sosok Sentaro. Seorang mantan narapidana yang hidupnya dipenuhi kekacauan dan catatan kriminal sebagai bentuk kegagalannya dalam menjalani hidup. Ia tidak lagi memiliki semangat untuk hidup, bahkan impiannya menjadi seorang penulis pun telah gagal. Akibat dari yang dia lakukan di masa lalu, kini dia harus terkurung di sebuah kedai dorayaki yang bernama Dora Haru. Sentaro terpaksa bekerja di sana untuk menebus utang kepada bosnya.

Suatu hari datanglah seorang wanita tua bernama Tokue yang menawarkan dirinya menjadi pegawai di Dora Haru. Namun, Sentaro menolak karena melihat kondisi Tokue yang sudah renta dan tangannya yang bengkok karena penyakit. Dia berusaha mengusirnya dengan alasan gaji pegawai sangat kecil. Akan tetapi, Tokue bersikukuh ingin bekerja dengan upah rendah sekali pun.

Demi mendukung permitaannya, Tokue bahkan sampai memberikan sampel pasta kacang merah buatannya untuk isian dorayaki kepada Sentaro untuk meyakinkan pemuda itu. Di luar dugaan, ternyata pasta tersebut sangat enak, berbeda dengan pasta yang biasa Sentaro gunakan untuk dorayakinya. Akhirnya, Tokue pun diterima bekerja dengan syarat hanya bertugas sebagai pembuat pasta kacang merah saja, tidak perlu melayani pelanggan. Tokue merasa sangat senang.

Tokue mengakui bahwa ia telah berpengalaman membuat pasta kacang merah selama 50 tahun. Tokue pun mengajarkan keahliannya pada Sentaro secara detail agar ia dapat membuat pasta kacang merah dengan rasa dan aroma yang sama. Tak disangka, pasta kacang merah buatan Tokue menarik banyak pelanggan. Pengunjung semakin lama semakin ramai bahkan dorayaki yang sebelumnya tidak laku seketika habis dalam waktu cepat.

Dalam hati kecilnya Sentaro merasa senang dan ia menjadi lebih bersemangat untuk menjalani hari esok. Namun, sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi. Tokue semakin lama semakin sering berinteraksi dengan pengunjung dan menimbulkan pembicaraan yang tidak mengenakkan tentang Tokue. Perlahan pelanggan Dora Haru menghilang karena desas-desus yang muncul setelah melihat kondisi tangan Tokue yang bengkok.

Tokue akhirnya menyerah dan tidak lagi bekerja di Dora Haru. Sentaro yang gagal mempertahankan Tokue pun kembali berjuang sendiri dalam situasi bisnis yang semakin sulit. Hari-hari yang Sentaro jalani kembali suram dan menjengkelkan, ditambah tekanan dari istri pemilik toko yang ingin merubah Dora Haru menjadi toko okonomiyaki bersamaan dengan Sentaro yang berjuang menaikkan kembali eksistensi dorayaki pasta kacang merahnya.

Lama setelah itu, Sentaro memutuskan untuk mencari Tokue bersama seorang siswi bernama Wakana yang mengaku sangat dekat dengan Tokue semasa ia masih bekerja di Dora Haru. Bersama Wakana, Sentaro melakukan perjalanan masa lalu dan menemukan banyak sekali kisah mengejutkan milik Tokue.

Keduanya menemukan banyak fakta perihal kehidupan Tokue yang ternyata diasingkan karena penyakitnya. Dia tidak punya banyak kesempatan yang sama dengan orang-orang di usianya ketika muda. Pergerakannya diawasi, hidup terisolasi, dan berjuang melawan penyakit yang membuat tangannya bengkok, harus berganti nama karena dianggap sebagai aib, hingga harus hidup dalam pagar sanatorium.

Buku ini mengungkap bahwa Sentaro dan Tokue menjalani hidup yang sama. Tokue tidak mudah diterima oleh masyarakat dan memperoleh stereotip buruk dari orang lain. Kesempatannya dalam memperoleh hidup normal terasa mustahil.

Sementara Sentaro, orang-orang enggan membuang waktu untuk mendengarkan kisahnya, tidak memahami kerja kerasnya untuk keluar dari penjara dan ingin menempuh kehidupan yang lebih baik. Semua hanya mampu menilai sebelah mata. Mereka sama-sama bisa bebas secara fisik, tetapi tidak bebas dari penilaian orang lain.

Pasta Kacang Merah mengajarkan bahwa setiap kehidupan pasti punya makna dan akan selalu berharga. Sepahit apa pun kejadian yang dialami, kelak akan ada hal manis yang sedang menunggu di penghujung waktu. Entah harus menunggu berapa lama, kudapan manis itu pasti sudah disiapkan.

Buku ini, nyatanya bukan sekadar kisah tentang sekumpulan kacang merah, ataupun kudapan manis semata. Cerita ini, lebih dari itu. Kita diajak memahami hal-hal kecil yang tidak kita sadari tenyata memberikan perubahan besar dalam hidup, belajar memanusiakan, memahami makna kehidupan, dan indahnya persahabatan tanpa pandang usia dan latar belakang seseorang.

“Kehidupan tidak pernah memiliki warna yang sama selamanya. Ada kalanya warna kehidupan akan berubah total.” – Durian Sukegawa, Pasta Kacang Merah.

(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

Leave a comment