Hits: 18

Athayolah Nailah Zahwa Nasution

Pijar, Medan. Nama Anggi Wahyuda atau yang dikenal dengan julukan “Kaki Seribu”, mulai dikenal publik sebagai pendaki disabilitas asal Sumatera Utara yang aktif membagikan pengalamannya di media sosial. Di tengah pandangan masyarakat yang masih sering melihat disabilitas sebagai keterbatasan, Anggi hadir dengan cara berbeda. Melalui aktivitas pendakian dan konten yang ia buat, ia menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tetap dapat menjalani aktivitas luar ruangan dan mengejar target yang mereka inginkan.

Perjalanan hidup Anggi berubah setelah kecelakaan pada 2015 yang membuat kaki kanannya harus diamputasi. Kondisi tersebut sempat membuat aktivitasnya menjadi terbatas. Namun, seiring waktu, ia mulai kembali aktif dan mencoba berbagai kegiatan, termasuk mendaki gunung. Dari situlah namanya mulai dikenal luas oleh masyarakat, terutama di media sosial.

Sebagai pendaki disabilitas, Anggi telah menempuh berbagai perjalanan, termasuk mencapai Everest Base Camp di Nepal pada 2025. Perjalanan tersebut menarik perhatian publik karena dilakukan dengan kondisi fisik yang tidak lagi sempurna. Meski harus menghadapi jalur panjang dan cuaca dingin, Anggi tetap menyelesaikan pendakian bersama timnya.

Melansir dari okezone.com, ia mengungkapkan motivasinya untuk tetap berjuang hingga saat ini.

“Saya tidak kuat, saya hanya benci kata menyerah,” ungkapnya

Semangat tersebut juga terlihat dari cara Anggi memandang keterbatasan fisik yang dimilikinya. Dalam wawancaranya di kanal YouTube @medcom.id, ia menyampaikan bahwa kemampuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi tubuh, tetapi juga oleh kemauan untuk terus mencoba.

“Batas kemampuan manusia itu tidak terletak pada fisiknya, melainkan pada kemauannya,” ujarnya.

Selain mendaki, Anggi juga aktif membuat konten di YouTube dan media sosial pribadi lainnya. Konten yang ia unggah banyak memperlihatkan aktivitasnya saat menaklukkan alam dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. Ia sering membagikan pengalaman pribadi, perjalanan pendakian, hingga kegiatan luar ruangan yang dijalani seperti pada umumnya. Melalui kontennya, Anggi tidak menunjukkan sisi belas kasihan, melainkan mencoba memberikan motivasi kepada orang-orang agar berani memulai dan mencoba hal baru.

Melansir dari kanal YouTube @curhatbang, Anggi juga menceritakan pengalamannya sebagai penyandang disabilitas yang tetap aktif mendaki gunung dan membuat konten di media sosial. Dalam tayangan tersebut, ia membagikan cerita tentang proses menerima kondisi dirinya hingga kembali percaya diri untuk menjalani berbagai aktivitas.

Kehadiran Anggi di media sosial dinilai mampu membangun pandangan yang lebih positif terhadap penyandang disabilitas. Konten yang dibuatnya memperlihatkan bahwa disabilitas tidak selalu identik dengan ketergantungan atau keterbatasan dalam berkegiatan.

Tidak hanya dikenal melalui media sosial, Anggi juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan alam dan lingkungan. Melansir dari laman web ksdae.kehutanan.go.id, ia aktif mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap alam dan menunjukkan bahwa kegiatan luar ruangan dapat diikuti oleh siapa saja, termasuk penyandang disabilitas.

Di tengah berkembangnya media sosial dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang disabilitas, sosok Anggi Wahyuda menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman pribadi dapat berkembang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia tidak hanya dikenal sebagai pendaki disabilitas, tetapi juga sebagai figur yang konsisten menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menghalangi seseorang untuk tetap aktif dan produktif.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment