Hits: 2
Evelin Margareta Purba
Pijar, Medan. Di tengah maraknya konsumsi makanan cepat saji dan makanan ultra proses, isu diversifikasi pangan kembali menjadi perhatian banyak orang. Salah satu yang aktif menyuarakan hal tersebut adalah Manik Nur Hidayati, kreator konten lokal yang konsisten mengangkat isu pangan.
Manik menilai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia terjadi sangat cepat. Makanan ultra proses dan cepat saji semakin diminati karena dianggap praktis, mudah didapat, dan lebih murah dibanding makanan sehat atau real food.
Pengalaman Manik ketika tinggal di Mentawai, membuat dirinya melihat bagaimana masyarakat perlahan mulai meninggalkan sumber pangan alami yang sebenarnya telah diwariskan turun-temurun sesuai kondisi alam daerah setempat.
Indonesia memiliki kekayaan pangan yang sangat beragam. Berbagai daerah memiliki sumber pangan khas seperti sagu, sorgum, hingga aneka umbi-umbian yang dapat dimanfaatkan sesuai kondisi alam masing-masing. Namun, potensi tersebut sering kali kurang mendapat perhatian.
Dilansir dari rri.co.id, Manik menjelaskan bahwa tidak ada satu bahan pangan pun yang memiliki kandungan gizi sempurna. Oleh karena itu, keberagaman pangan penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara seimbang.
“Semua sumber pangan itu mempunyai pasangannya masing-masing untuk saling melengkapi gizi. Jadi, tidak ada satu jenis bahan pangan yang kandungan gizinya sempurna sendiri,” ujarnya.
Dalam perbincangan bersama RRI Kupang, Manik menjelaskan bahwa melalui kontennya di media sosial, ia berusaha memperkenalkan kembali pangan lokal sekaligus membangun rasa percaya diri masyarakat untuk mempertahankan makanan khas daerah mereka.
“Kalau memulai pola makan ini sebenarnya aku sudah mulai dari tahun 2020, tetapi untuk menyuarakan di media sosial itu baru sekitar dua tahun terakhir yang intens,” jelasnya.
Lewat konsep “Isi Piringku”, Manik tidak hanya membahas makanan, tetapi juga mengaitkannya dengan kesehatan, budaya, lingkungan, dan politik pangan. Kampanye tersebut perlahan mulai menunjukkan dampak positif.
Di sisi lain, generasi muda kini semakin jarang mengenal berbagai jenis pangan lokal yang dahulu umum dikonsumsi masyarakat. Banyak makanan tradisional yang kalah populer, dibandingkan produk makanan modern yang lebih sering muncul di media sosial maupun pusat perbelanjaan.
Melalui gerakan Teman Manik, masyarakat mulai kembali membagikan isi piring mereka menggunakan pangan lokal dari daerah masing-masing. Gerakan itu menunjukkan semakin banyak generasi muda yang ternyata sudah mulai sadar bahwa makanan tradisional Indonesia bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Generasi muda seharusnya menjadi kelompok yang memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman pangan. Melalui berbagai platform digital, mereka memiliki peluang untuk memperkenalkan kembali makanan tradisional kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus membangun kebanggaan terhadap produk pangan lokal.
Oleh karena itu, Manik berharap upaya mengembalikan diversifikasi pangan bukan dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani secara konsisten dan bertahap.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

