Hits: 5

Azka Luthfiah Khalda

Pijar, Medan. Bulan Mei menjadi bulan yang cukup menyedihkan bagi para pencinta film dengan hadirnya film Gohan di bioskop. Film drama asal Thailand ini mengisahkan perjalanan hidup seekor anjing liar berwarna putih dengan ciri khas hidung merah muda yang ikonik, kehidupannya dibagi ke dalam tiga fase berbeda. Melalui perjalanan tersebut, penonton diajak melihat bagaimana seekor anjing dapat mengubah kehidupan banyak orang yang ditemuinya.

Dirilis pada 14 Mei 2026, Gohan merupakan karya terbaru dari GDH 559, rumah produksi yang dikenal melalui sejumlah film populer, seperti How to Make Millions Before Grandma Dies. Keberadaan nama besar tersebut menjadi salah satu alasan tingginya antusiasme penonton terhadap film ini.

Dilansir dari Instagram @detikpop, salah satu keunikan Gohan terletak pada pembagian ceritanya ke dalam tiga era kehidupan yang berbeda. Pada setiap era, sang anjing memiliki nama dan pemilik yang berbeda, sehingga menghadirkan pengalaman emosional yang beragam bagi penonton.

Pihak produksi menunjuk tiga sutradara berbeda untuk menggarap masing-masing bagian cerita. Chayanop Boonprakob mengarahkan bagian pertama. Sementara itu, Nattawut Poonpiriya menggarap bagian kedua. Adapun bagian terakhir dipercayakan kepada Atta Hemwadee.

Keputusan menghadirkan tiga sutradara dalam satu film ini tidak hanya membuat setiap fase kehidupan Gohan terasa berbeda, tetapi juga memberikan warna, emosi, dan sudut pandang yang khas di setiap babak cerita. Bersamaan dengan perubahan hidupnya, nama yang disandangnya pun turut berubah, dari Gohan, Brownie, hingga Hima.

Pada fase pertama, saat masih bernama Gohan, ia dirawat oleh seorang kakek asal Jepang Bernama Hiro yang bekerja di Thailand. Awalnya, Gohan hanyalah anjing liar yang setiap hari duduk menunggu di depan sebuah minimarket yang berada di seberang apartemen tempat Hiro tinggal. Suatu hari, tanpa sengaja Gohan masuk ke dalam cooler box milik Hiro dan terbawa hingga ke apartemennya. Dari peristiwa tak terduga tersebut, hubungan keduanya mulai terjalin. Hiro menamainya Gohan karena bulunya yang putih seperti nasi dalam bahasa Jepang.

Meski pada awalnya Hiro tidak menyukai kehadiran Gohan, perlahan rasa peduli dan kasih sayang tumbuh di antara mereka. Kehangatan hubungan keduanya menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam film ini. Namun, setelah Hiro meninggal dunia, Gohan tetap bertahan di rumah yang pernah mereka tinggali bersama.

Memasuki fase kedua, kehidupan Gohan kemudian berubah drastis ketika ia ditangkap oleh pengelola penampungan anjing liar. Alih-alih mendapatkan perawatan yang layak, Gohan justru dieksploitasi demi meraih simpati dan donasi dari masyarakat. Meskipun banyak orang tergerak untuk membantu, kenyataannya Gohan hanya dikurung dan tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya.

Gohan yang kini bernama Brownie menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Setelah terlepas dari tempat penampungan anjing yang penuh eksploitasi, ia bertemu dengan Namcha, seorang pekerja migran asal Myanmar yang memutuskan membantunya mencari kebebasan. Melalui hubungan ini, penonton dapat melihat bahwa orang-orang yang merasa tidak pada tempatnya atau terasing di dunia, sering kali menemukan rumah (rasa memiliki) dalam diri satu sama lain.

Pada fase terakhir kehidupannya, Brownie yang kini bernama Hima terbawa hingga ke stasiun Hua Takhe. Di sana, ia bertemu dengan pasangan muda Bernama Pele dan Jaidee yang kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Memasuki usia senja, Hima tidak pernah kekurangan perhatian maupun makanan.

Namun, kehidupan yang nyaman tidak serta-merta menjamin segalanya berjalan baik. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, Hima didiagnosis mengidap penyakit serius dan diperkirakan hanya memiliki waktu sekitar tiga bulan untuk bertahan hidup. Fase terakhir ini menjadi bagian paling emosional dalam perjalanan hidup Hima, memperlihatkan makna cinta, kehilangan, dan bagaimana seseorang memilih menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disayanginya sebelum perpisahan datang.

Kekuatan utama Gohan terletak pada kemampuannya menyampaikan emosi melalui cerita yang sederhana. Film ini tidak bergantung pada konflik besar ataupun adegan dramatis yang berlebihan. Sebaliknya, ia membangun kedekatan dengan penonton melalui momen-momen kecil yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Justru kesederhanaan itulah yang membuat setiap kehilangan terasa lebih nyata.

Pada akhirnya, Gohan bukan sekadar film tentang seekor anjing. Film ini adalah refleksi tentang hubungan, kesetiaan, dan jejak yang ditinggalkan seseorang dalam hidup orang lain. Ketika lampu bioskop kembali menyala, mungkin yang tersisa bukan hanya air mata, tetapi juga kesadaran bahwa rumah tidak selalu tentang tempat, melainkan tentang siapa yang membuat kita merasa berarti.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment