Hits: 20

Arbiatul Insani Lubis

Pijat, Medan. Enau kembali merilis karya terbaru pada awal tahun 2026 yang langsung menarik perhatian pendengar. “Sesi Potret”, lagu ini hadir dengan nuansa yang reflektif dan tak kalah kuat dengan karya-karya sebelumnya. Melalui lirik yang puitis dan emosional, lagu ini mengangkat tema kehilangan serta penyesalan yang mampu membawa pendengar larut dalam setiap liriknya.

Dirilis pada Januari 2026, Enau berkolaborasi dengan kakak kandungnya, Ari Lesmana yang juga dikenal sebagai vokalis Fourtwnty. “Sesi Potret” ditulis sebagai bentuk representasi dari berbagai kisah duka yang hadir di lingkungan sekitarnya.

Lagu ini mengandung makna mendalam tentang seseorang yang harus hidup jauh dari orang tersayang demi pekerjaan. Keadaan ekonomi yang sulit membuatnya tak mampu pulang untuk waktu yang lama. Namun, ketika kehidupannya mulai membaik, kenyataan justru berubah menjadi pahit. Orang yang selama ini ia rindukan ternyata telah lebih dahulu “pulang” untuk selamanya. Di sinilah muncul perasaan terpukul, tidak siap, dan seperti kehilangan kesempatan terakhir.

Enau tidak secara gamblang menjelaskan makna di balik setiap lirik dalam lagu tersebut. Namun, pada bagian pertengahan hingga akhir lagu, nuansa kehilangan dan proses berduka terasa semakin kuat. Lirik-liriknya menggambarkan rasa terpukul, penyesalan, hingga usaha seseorang dalam menerima kenyataan pahit yang datang terlambat.

Ku bertamu ke rumah barumu

Tak ada kamu

Hanya papan dan namamu

Bait tersebut menjadi puncak emosional dalam lagu “Sesi Potret”, suasana kehilangan ketika pertemuan yang dinantikan berubah menjadi ziarah makam yang penuh penyesalan. Ungkapan “rumah baru” dimaknai sebagai makam, sementara “hanya papan dan namamu” menegaskan bahwa yang tersisa kini hanyalah penanda nama. Sosok yang selama ini dirindukan telah pergi, dan meninggalkan kenangan serta duka yang mendalam bagi orang yang ditinggalkan.

Tema kehilangan keluarga, khususnya sosok orang tua, menjadi alasan lagu ini mudah diterima oleh pendengar. Banyak pendengar mengaitkan cerita dalam “Sesi Potret” dengan pengalaman pribadi mereka tentang jarak dan rasa bersalah yang kerap datang setelah kehilangan terjadi.

Sesi potret yang selalu ku benci

Aneh rasanya kau tak disini

Susunan barisannya tak sama lagi

Ooh.. Satu dua tiga

 ini nyata kau telah pergi

Bagian klimaks lagu hadir pada lirik ini yang merujuk pada momen foto keluarga, tetapi tanpa kehadiran sosok penting di dalamnya. Penggalan tersebut menjadi simbol perubahan yang bersifat permanen dalam kehidupan seseorang. Kehilangan itu tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga ruang kosong yang tak lagi bisa dipenuhi.

Selain berbicara tentang duka, lagu ini juga menyoroti makna keikhlasan serta menegaskan bahwa menerima kehilangan bukan proses yang mudah. Melalui “Sesi Potret”, pendengar diajak untuk menghargai waktu bersama keluarga selagi masih ada kesempatan. Lagu ini sekaligus sebagai pengingat bahwa kesuksesan dan pencapaian materi tidak selalu mampu menggantikan kehadiran orang yang dicintai.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment