Hits: 2
Farrel Kresna Maruli Sibuea
“Ibu, di keheningan rahimmu, aku pulang sebagai hewan jantan yang terluka.” – Royyan Julian halaman 6.
Dibalik nama yang diambil dari salah satu anatomi tubuh perempuan, karya Sasti Gotama yang satu ini didasarkan atas beberapa penelitian mendalamnya, seperti riset medis, penalaran hukum, serta pengalaman nyata. Dengan tujuan agar dapat menggambarkan narasi luka mendalam yang kerap dialami oleh hampir keseluruhan perempuan. Karya tulis tersebut, berjudul Korpus Uterus yang dapat menghantarkan pembaca dalam lingkaran paradoks mengenai salah satu anatomi tubuh perempuan.
Mengisahkan tokoh utama bernama Panuluh atau disapa Luh, seorang anak laki-laki dari Ibu Kalimah yang merupakan korban pelecehan seksual. Luh merupakan anak hasil dari peristiwa traumatis tersebut. Memiliki luka mendalam, Kalimah beberapa kali melakukan pengguguran terhadap sang buah hati. Namun, akhirnya ia memilih untuk membuka gerbang kehidupan bagi Luh, meskipun ia masih membawa perasaan tidak ingin membesarkan anaknya secara penuh.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Luh terpaksa mengisi kehidupan layaknya seorang patung dan hewan ternak ketika di hadapan sang ibu. Kalimah sehari-hari menghabiskan waktunya di depan mesin tik untuk menghasilkan karya puisi dan novel. Pada saat-saat itu, Luh hanya fokus mendengarkan tikan jari , sekaligus menatap sang Ibu dengan jutaan harapan akan mendapatkan sehelai kasih sayang, tetapi tidak kunjung menyelimutinya.
Beranjak dari pengalaman pahit tersebut, anak dengan telinga kiri berbentuk kembang kol tersebut memutuskan untuk berkelana ke dunia luar, dengan secangkir harapan dapat menyelamatkan perempuan yang tidak menginginkan kandungan, begitu juga dengan anak yang dilahirkan secara terpaksa.
Diselimuti berbagai tantangan, tanpa sengaja, Luh dipertemukan oleh beragam tokoh dengan berbagai latar belakang dan moralitas terkait pengguguran kandungan (aborsi) dan otoritas tubuh perempuan. Setiap tokoh dikemas dengan baik sebagai representasi luka mendalam serta kegigihan dari seorang perempuan.
Salah satunya adalah Nur, perempuan penghibur yang menghidupi dan membawa Luh ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Nur digambarkan sebagai benturan moral, ketika ia harus menjalani kehidupan melalui pernikahan paruh waktu demi memenuhi tuntutan ekonomi, serta dibumbui rasa takut akan keterpaksaan pengguguran tidak steril yang dapat merenggut nyawa.
Selain itu, Luh bertemu dengan Dokter Markus, yakni dokter spesialis kandungan (Obgyn) dengan keterampilan penciuman setajam gajah. Luh dan Dokter Markus kerap mengalami kontradiksi moral terkait kemurnian sebuah kandungan. Bagi dokter dengan penciuman tajam tersebut, rahim ibarat sosok ibu yang akan memberikan kehangatan dan melindungi dari segala hambatan.
“Aku tak peduli tujuanmu apa. Demi rahim Ibuku, aku muak jika kau sampai merusak rahim perempuan. Kau tahu? Rahim adalah ibu sesungguhnya. Dia melindungimu dari benturan, memberimu kehangatan, dan mengirimimunutrisi. Apa kau tega melukai ibumu? Bagaimana jika tanpa sengaja kau menusuk rahim itu hingga perdarahan atau infeksi? Bagaiman jika kau mengerok terlalu dalam sehingga timbul jaringan parut dan nantinya rahim itu tak bisa lagi menjadi ibu? Tak bisa sebagai tempat tumbuh janin?” – halaman 103.
Berbeda dengan Dokter Markus, Luh memiliki pandangan bahwa seorang anak punya hak untuk tidak dibawa ke dalam hidup seorang perempuan yang tidak dapat menjadi seorang ibu, dan ia sangat kesal mengetahui penderitaan anak-anak yang terpaksa dilahirkan. Bahwasanya, Luh juga meyakini bahwa bayi yang berpulang sebelum lahir akan berada disurga.
Penggambaran karakter dan alur cerita dari karya Sasti Gostama tersebut, merepresentasikan keharusan untuk berpihak dalam sebuah lingkaran paradoks, antara memberikan kehidupan kepada sang anak atau empati kepada calon ibu.
Membuka helai lembaran, pembaca akan banyak dipertemukan dengan pemilihan diksi ilmiah yang berkaitan dengan kandungan, sehingga dapat mencetuskan pertanyaan terkait apa arti dari rahim sebagai jembatan kehidupan calon anak.
Dilansir dari idntimes.com, Sasti Gostama menyuarakan bahwa paradoks ini mencakup beberapa isu, seperti m isu kesehatan, keadilan, dan juga hak asasi. Ketika terdapat kontradiksi antara kebijakan dan hukum dengan realitas sosial, akan berdampak terhadap hilangnya kendali atas tubuh dan impian perempuan.
“Aku katakan kepada mereka, tak apa bersedih, tak apa marah, tetapi setidaknya beri kesempatan kepada si bayi untuk memilih. Lahir atau tidak. Setelah si bayi lahir, mereka tak harus bertanggung jawab atas si bayi. Mereka bebas menjadi apa yang mereka mau. Jika mereka akhirnya mau menjadi ibu, silahkan. Begitu juga bila mereka mau sekolah lagi, menata hidup lagi, atau menikah lagi, terserah. Dan bagi anak-anak yang lahir, sebisa mungkin kuberikan kebahagiaan seperti yang seharusnya kuberikan.” – halaman 196.
Terdapat rasa ambiguitas moral, buku ini membuka banyak pandangan dengan mengangkat konteks dari salah satu anatomi tubuh perempuan, yakni pemaknaan rahim sebagai bentuk kekukuhan, luka, dan perjuangan dalam memberikan jalan kehidupan kepada sang anak.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

