Sherenika Azalia

Pijar, Medan. Corat-coret di Toilet merupakan sebuah buku kumpulan cerpen hasil karya Eka Kurniawan. Menyuguhkan hasil karya sastra pada tahun 1999 hingga 2000 yang diawali pada cerita Peter Pan hingga cerita yang berjudul Kandang Babi dengan jumlah 12 hasil karya sastra. Buku rilisan tahun 2014 ini, memiliki kumpulan cerita yang kemudian banyak membukakan mata para pembaca akan cerita yang disuguhkan.

Diawali dengan cerita Peter Pan yang menceritakan sebuah proses panjang seorang penyair hebat dalam memperjuangkan segalanya untuk perang gerilya. Melalui segala tindakan subversif ia rela melakukan apapun demi terlaksanakannya perang ini. Bersama dengan Tuan Puteri dan banyak pendukungnya, hingga pada akhirnya memberikan bekas luka yang tidak dapat terlupakan. Ditutup dengan tahun di setiap akhir cerpen, yaitu tahun 2000 untuk karya Peter Pan dan untuk hasil karya lain beserta tahunnya.

Karya selanjutnya yang tidak kalah menarik untuk dibaca ialah cerita berjudul Corat-coret di Toilet. Pada bagian ini cukup banyak yang diceritakan oleh penulis mengenai kejadian pada Reformasi Indonesia. Yang berawal pada cat bersih bagian kamar mandi kampus yang kemudian diisi oleh coretan atau ocehan yang memang vandalis dan orang-orang tidak ragu untuk menuliskan keluh kesahnya.

Dinding yang baru dicat ini, tidak lama penuh akan tulisan-tulisan para mahasiswa pada era itu. Membawa olok-olok PKI, coretan yang membalas mengenai ajakan kencan mesum, sampai kepada anak alim yang kemudian menuliskan jika ingin menyampaikan unek-unek, sampaikan langsung saja ke bapak-bapak anggota dewan karena merasa toilet menjadi kurang bersih karena terdapat banyaknya coretan.

Kemudian tak lama dari itu munculah tulisan “Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.” yang juga mengundang tulisan-tulisan bertuliskan “Aku Juga” sebanyak ratusan tulisan. Menganggap tidak setuju akan hal tersebut.

Pada karya selanjutnya, disuguhkan mengenai Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam. Bagi kalian yang membaca bagian ini, terdapat beberapa kejadian yang masih sampai saat ini memang terjadi bagi para kaum perempuan. Tidak diperbolehkan untuk keluar malam karena banyak hal buruk yang akan terjadi tanpa adanya pengawasan yang ketat, sehingga membuat banyak khususnya perempuan tidak diperbolehkan untuk keluar pada malam hari, kemudian juga dianggap kurang baik.

Pada masanya, setiap anak remaja akan merasa dirinya perlu keluar rumah untuk bersosialisasi dengan teman sebaya, namun apa boleh buat jika hal itu dilarang dan tidak diperbolehkan terkhusus pada malam hari. Si Cantik semakin merasa bahwa dirinya tersiksa, hingga cerita ini menyuguhkan penutup yang banyak mengundang tanda tanya.

Di sini penulis, memberikan cerita-cerita pendek yang memang cukup ringan untuk dibaca. Pada setiap bagian, memiliki keunikan masing-masing. Tidak terasa bosan untuk membaca berulang kali kumpulan cerita pendek ini. Memiliki banyak makna tersirat yang mungkin belum diketahui oleh pembaca yang ingin disampaikan oleh penulis.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment