Hits: 4
Diva Meilisa
Pijar, Medan. Di tengah deretan hidangan mewah dalam jamuan makan Tionghoa, ada satu sajian yang hampir selalu hadir lebih dulu di meja makan. Namanya Leng Pua atau Leng Poa, sebutan yang cukup familiar di kalangan masyarakat Tionghoa Medan. Meski sering dianggap sekadar makanan pembuka, Leng Pua sebenarnya memiliki banyak keunikan, mulai dari cara penyajian, isi hidangan, hingga filosofi di baliknya.
Leng Pua berasal dari istilah Hokkien untuk kata ?? (l?ngpán) yang berarti “hidangan dingin”. Sesuai namanya, hidangan ini memang disajikan dalam kondisi dingin sebelum makanan utama keluar. Dalam tradisi kuliner Tionghoa, hidangan dingin dipercaya dapat membangkitkan selera makan sekaligus memberi keseimbangan sebelum menyantap makanan utama yang cenderung panas dan berminyak.
Keunikan pertama dari Leng Pua terletak pada tampilannya. Berbeda dari appetizer biasa yang disajikan dalam porsi kecil, Leng Pua justru hadir dalam piring besar dengan aneka lauk yang ditata rapi dan penuh warna. Dalam satu piring, berbagai jenis makanan disusun berdampingan sehingga terlihat mewah dan menarik perhatian sejak pertama kali dihidangkan.
Isi Leng Pua yang beragam juga menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya terdiri dari satu jenis makanan, hidangan ini biasanya memadukan berbagai tekstur dan rasa dalam satu sajian. Mulai dari ayam rebus dingin, irisan bebek panggang, udang mayones, tahu, timun, hingga acar sayur dapat ditemukan dalam satu piring Leng Pua. Beberapa restoran Tionghoa juga menambahkan telur pitan atau century egg, dan ubur-ubur yang cukup unik bagi sebagian orang.
Ubur-ubur dalam Leng Pua, memiliki tekstur kenyal dan renyah yang jarang ditemukan pada hidangan lain. Biasanya bahan ini disajikan dengan minyak wijen atau saus ringan sehingga terasa segar saat dimakan. Sementara itu, century egg menjadi salah satu komponen yang paling mencuri perhatian karena warnanya yang gelap dan aroma khas hasil proses fermentasi. Meski terdengar asing bagi sebagian orang, bahan ini justru dianggap istimewa dalam kuliner Tionghoa.
Tak hanya soal rasa, keunikan Leng Pua juga terlihat dari perpaduan unsur di dalamnya. Dalam budaya makan Tionghoa, keseimbangan menjadi hal penting, termasuk dalam sebuah hidangan pembuka. Karena itu, Leng Pua biasanya menghadirkan kombinasi rasa gurih, asam, manis, hingga segar dalam satu sajian. Teksturnya pun dibuat beragam, mulai dari renyah, lembut, hingga kenyal agar pengalaman makan terasa lebih menarik.
Di Medan, Leng Pua cukup sering ditemukan dalam jamuan makan keluarga besar, pesta pernikahan, hingga perayaan Imlek. Sajian ini biasanya menjadi hidangan pertama yang dinikmati bersama sebelum makanan utama disajikan satu per satu. Tidak heran jika Leng Pua sering dianggap sebagai pembuka suasana di meja makan.
Selain itu, cara penyajian Leng Pua juga mencerminkan budaya makan bersama yang kuat dalam tradisi Tionghoa. Karena disajikan dalam satu piring besar untuk dinikmati ramai-ramai, hidangan ini menghadirkan suasana akrab dan kebersamaan di meja makan. Semua orang dapat mengambil makanan sesuai selera mereka, membuat momen makan terasa lebih hangat dan santai.
Di balik tampilannya yang sederhana, Leng Pua ternyata menyimpan banyak keunikan, mulai dari konsep hidangan dingin, kombinasi rasa dan tekstur, hingga nilai kebersamaan yang dibawanya. Leng Pua bukan sekadar appetizer biasa, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner Tionghoa yang tetap bertahan hingga sekarang, serta cerminan dari cara masyarakat Tionghoa menghargai keseimbangan dalam pengalaman makan.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

