Hits: 61
Ruth Syahputri Situmorang
Pijar, Medan. Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sumatera Utara (USU), kembali menggelar Jungfood Ex-Fest ke-4 di lingkungan FP USU, dengan mengangkat tema “Culinary Time Capsule: Preserving Roots, Innovating Future”. Kegiatan ini hadir sebagai wadah edukasi pangan yang menggabungkan budaya, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan.
Ketua Panitia Jungfood Ex-Fest ke-4, Adrian Yudha Wardana, mengatakan tema tersebut dipilih untuk memperlihatkan perkembangan pangan dari masa lalu hingga masa depan. Menurutnya, pangan tidak hanya soal makanan, tetapi juga berkaitan dengan inovasi dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.
“Pada tahun ini, kami menekankan inovasi pangan dari masa lalu hingga masa depan, termasuk bagaimana perkembangannya memengaruhi kehidupan manusia sehari-hari,” ujarnya.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang berfokus pada makanan tradisional Sumatra Utara, acara Jungfood Ex-Fest tahun ini mengangkat konsep “Jungle of Food”. Konsep tersebut menjadi bentuk pembalikan dari istilah makanan cepat saji (junk food) yang identik dengan makanan tidak sehat. Seluruh panitia justru ingin memperkenalkan pangan alami dan minim pengolahan yang berasal dari kekayaan alam Indonesia.
Sekretaris Panitia Jungfood Ex-Fest ke-4, Friska Abigail Manurung, menjelaskan tidak sedikit masyarakat yang menganggap Prodi Teknologi Pangan sama dengan Prodi Tata Boga. Melalui kegiatan ini, seluruh panitia ingin memperlihatkan bahwa Teknologi Pangan memiliki cakupan lebih luas, terutama dalam bidang inovasi dan pengolahan pangan.
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai rangkaian acara, mulai dari pameran produk inovasi mahasiswa, bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), gelar wicara (talkshow), hingga tur kampus bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

(Fotografer: Ruth Syahputri Situmorang)
Dalam kegiatan pameran produk, pengunjung dapat melihat berbagai hasil inovasi, seperti pemanfaatan limbah kulit buah naga hingga produk olahan dan berbasis bahan alami. Produk-produk tersebut tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga manfaat dan proses pengolahannya. Menurutnya, pengunjung diharapkan dapat memahami bahwa Teknologi Pangan tidak sekadar memasak, tetapi juga memikirkan nilai gizi, keberlanjutan, dan pemanfaatan bahan pangan secara kreatif.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meninggalkan kesan kepada pengunjung bahwa limbah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bernilai guna. [Oleh] karena itu, kami berharap pengunjung mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru setelah datang ke sini,” ungkapnya.
Produk yang dipamerkan berasal dari pemikiran orisinal dan inovasi internal mahasiswa Prodi Teknologi Pangan serta dosen yang ikut berkontribusi. Pengunjung diharapkan dapat memahami bahwa Teknologi Pangan tidak sekadar memasak, tetapi juga memikirkan nilai gizi, keberlanjutan, dan pemanfaatan bahan pangan secara kreatif.
Sebagai penutup, Friska berharap kegiatan ini dapat membuka pandangan masyarakat bahwa Prodi Teknologi Pangan tidak terbatas pada produk makanan saja.
“Kami ingin pengunjung pulang dengan rasa penasaran dan sadar bahwa limbah pun bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

