Hits: 6
Angel Charoline Panjaitan
Pijar, Medan. Apa kamu masih sering melihat Kipang dijual di lampu merah? Selain di lampu merah, Kipang bisa ditemukan di toko oleh-oleh, pasar tradisional, dan acara adat serta keluarga. Jajanan tradisional khas Sumatra Barat ini secara simbolis merupakan elemen penting dalam tradisi “manjalang” (berkunjung) di Minangkabau. Tradisi ini melambangkan penghormatan terhadap menantu laki-laki (Urang Samando) sebagai tamu yang paling dihormati atau “raja” dalam keluarga besar istrinya.
Tradisi Manjalang adalah salah satu adat pernikahan Minangkabau, di mana pengantin perempuan mengunjungi rumah mertua bersama suaminya. Kunjungan ini merupakan bentuk penghormatan dan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara keluarga besar. Salah satu ciri utama tradisi ini adalah membawa makanan tradisional, yang sering kali menyertakan Kipang.
Nama hidangan ini diyakini berasal dari bahasa Hokkien “bi-phang” yang berarti beras wangi, mengacu pada bahan baku beras ketan yang diolah dengan gula. Kipang di berbagai daerah biasanya sering disebut sebagai tenteng, jipang, gipang, atau ampyang. Kipang umumnya berbahan dasar kacang, beras, atau jagung yang disatukan dengan gula merah cair. Melambangkan sikap rendah hati, sumber kehidupan, kemampuan beradaptasi, dan simbol tali persaudaraan, menunjukkan bahwa Kipang bukan sekadar makanan tradisional.
Kipang terbagi atas beberapa jenis, yaitu Kipang Kacang, Kipang Sipuluik (pulut) hitam, Kipang jagung, Kipang beras (ampiang), dan Kipang Kacang Mete. Kipang memiliki tekstur yang unik karena campuran kacang tanah dan karamel gula merah di luar, sehingga memberikan sensasi lapisan luar yang renyah dan lengket saat digigit. Proses pembuatan Kipang yang masih mempertahankan cara tradisional juga menjadi nilai tersendiri, dari ketan yang digoreng hingga balutan gula, setiap potong Kipang menyimpan ketekunan pembuatnya.
Keberadaan Kipang sampai saat ini menunjukkan bagaimana kuliner tradisional mampu bertahan di tengah arus perubahan zaman. Ketika banyak makanan kekinian yang terus bermunculan, Kipang tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bahkan, beberapa pelaku usaha mulai membuat inovasi kemasan Kipang dengan tampilan lebih modern agar lebih menarik bagi generasi muda tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Hal ini menjadi bukti bahwa makanan tradisional dapat terus berkembang.
Kipang yang tetap bertahan menjadi simbol kuliner lokal yang tidak lekang oleh waktu. Ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional akan terus ada selama masih ada masyarakat yang menjaga, melestarikan, dan menghargainya. Dengan demikian, Kipang bukan sekadar makanan manis dan renyah, melainkan juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan antargenerasi serta mempererat hubungan keluarga melalui warisan kuliner yang sederhana, tetapi bermakna.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

