Hits: 7
Amanda Citra Ayu
Pijar, Medan. Apakah kalian tim berkenalan melalui media sosial atau lewat kejadian tak terduga? Misalnya, jika dilihat di film-film, ketika berada di jalan, kamu tidak sengaja menabrak orang yang kebetulan lawan jenis kamu. Buku-buku miliknya berhamburan dan kamu berusaha untuk membantunya, hingga dari situlah dimulai percakapan kecil. Meski terdengar klise, pertemuan seperti ini ada kalanya memberi kesan manis yang sulit dilupakan. Sayangnya, hal tersebut terasa semakin jarang terjadi di kehidupan nyata masa kini.
Sedikit gambaran, terdapat drama Korea berjudul Can This Love Be Translated?, yang bercerita tentang pertemuan dua orang asing dengan tujuan berbeda untuk pertama kalinya di Jepang. Sang wanita datang karena ingin melabrak kekasihnya yang selingkuh, sementara sang pria, seorang penerjemah yang dimintai bantuan secara spontan untuk menerjemahkan maksud ucapan si wanita. Kondisi seperti ini disebut sebagai Organic Encounter, yaitu pertemuan atau interaksi yang terjadi secara alami, kebetulan, dan tanpa adanya bantuan teknologi.
Konsep tersebut terasa romantis karena tidak direncanakan, bahkan kedua pihak cenderung tidak saling mengenal. Adanya rasa canggung sekaligus rasa penasaran yang tumbuh, memberi perasaan yang mengejutkan hati kedua insannya. Kita tidak perlu berekspektasi jauh karena sudah terlihat dengan jelas di depan mata, hanya perlu saling mengenal lebih dalam.
Namun, adanya pengaruh dari kemajuan teknologi menunjukkan realitas yang berbeda. Tidak salah jika kita ingin berkenalan lewat suatu platform media, karena seiring berkembangnya zaman, tidak ada batasan untuk bisa berkomunikasi. Dilansir dari wearesocial.com, jumlah pengguna media sosial di Indonesia menunjukkan lonjakan yang signifikan, yaitu mencapai 180 juta identitas pengguna atau setara dengan 62,9% dari total populasi. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita melakukan interaksi lewat media sosial.

(Sumber Foto: wearesocial.com)
Dilihat dari keseharian kita, kondisi ini terasa semakin nyata. Misalnya, di dalam transportasi umum, jarang terlihat dua orang asing saling bertatapan atau sekadar memperhatikan sekitarnya. Sebagian besar sudah tenggelam dalam gadget dan urusan pribadi masing-masing. Terasa dingin dan sunyi karena setiap orang seakan berada dalam dunianya sendiri. Bahkan, sebagian orang merasa terganggu jika ada orang yang tidak dikenal berusaha untuk mencoba akrab di tempat umum. Pertemuan Organic Encounter menjadi terasa langka atau sulit terjadi di kondisi seperti ini.
Kemudahan komunikasi lewat media sosial memang dinilai lebih efisien, karena kita dapat berhubungan dengan orang baru tanpa harus menunggu “kebetulan” atau momen Organic Encounter itu terjadi. Kita bisa memilih berdasarkan minat atau preferensi kita sendiri. Dalam hal ini, muncul pertanyaan, apakah hubungan yang dimulai secara alami akan kalah dengan hubungan yang dimulai dari perkenalan lewat sebuah platform media? Apakah sebenarnya Organic Encounter masih banyak terjadi, tetapi diadaptasi dengan penyesuaian zaman?
Adaptasi yang dimaksud ialah ketika seseorang melakukan pertemuan atau interaksi secara alami yang kemudian berlanjut ke ruang digital. Pertemuan awal yang tidak direncanakan tersebut, kemudian diteruskan ke platform media sosial. Dengan begitu, pertemuan secara alami itu masih ada, meskipun perkembangan hubungannya juga memanfaatkan teknologi.
Di balik adanya kemudahan akses berkomunikasi yang bisa kita nikmati saat ini, masih terdapat harapan kecil. Harapan untuk terjadinya pertemuan yang tidak direncanakan, tanpa perantara, dan yang terasa lebih personal dan autentik. Sebab di era ini, hampir semua hal bisa diakses, dicari, dan direncanakan. Justru, suatu hal yang tidak disengaja, sering kali menjadi momen yang paling berkesan, unik, dan juga manis untuk dikenang.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

