Hits: 56
Arya Duta
Pijar, Medan. Sampah adalah salah satu permasalahan yang paling diperhatikan saat ini. Terutama sampah plastik yang telah menjadi komponen penting dari sebuah produk dan kemasan karena sifatnya yang tahan lama, ringan dan murah. Tetapi, meskipun mereka menawarkan banyak manfaat, penggunaan plastik yang berlebihan dapat memancarkan gas rumah kaca yang akan mengakibatkan perubahan iklim seperti pemanasan global.
Sampah plastik umumnya digunakan sekali pakai. Perlu diketahui, bahkan jika plastik dibuang ke tempat pembuangan sampah sekalipun, beberapa plastik cukup ringan untuk tertiup angin dan masuk ke saluran air. Pada dasarnya, sampah plastik memang dapat terurai. Plastik yang terurai akan menjadi potongan-potongan kecil bernama mikroplastik yang bisa menyebar ke seluruh dunia, bahkan sampai ke dalam lautan.
Bahan kimia berbahaya yang berasal dari plastik dapat membuat pil beracun. Tak menutup kemungkinan, zat beracun tersebut akan termakan oleh hewan air maupun darat. Selain itu, bau sampah yang mengandung gas metana juga dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, orang-orang mencanangkan gaya hidup zero waste.
Apa itu gaya hidup zero waste? Sederhananya, menjalani hidup tanpa sampah atau sama sekali tidak menghasilkan sampah. Gaya hidup zero waste berjalan seiring dengan metode-metode 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot) untuk mengurangi sampah.
Metode ini dilakukan di berbagai belahan dunia sebagai panduan untuk mengurangi limbah yang kita hasilkan. Dalam metode ini, kita diajarkan untuk menolak sesuatu yang tidak dibutuhkan terlebih dalam penggunaan produk berbahan dasar plastik, kemudian mengurangi konsumsi produk dengan mempertanyakan apakah produk yang kita beli dapat digunakan berulang kali atau tidak. Hal ini termasuk dalam conventional reuse, di mana barang yang kita beli dapat digunakan kembali dengan fungsi yang sama. Seperti penggunaan botol minum, sedotan alumunium, set alat makan, dan lain sebagianya.
Untuk barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi seperti ember, botol plastik, dan ban bekas bisa kita daur ulang menjadi barang yang bermanfaat. Barang bekas terseut dapat kita ubah menjadi gantungan, pot bunga, lampu hias, dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk limbah rumah tangga seperti sisa makanan, kita dapat memisahkannya dan menjadikannya kompos. Dengan begitu cacing tanah dapat mengurai sampah sisa makanan kita.
Salah satu unsur menjalani gaya hidup zero waste adalah rumah tangga minim sampah, bebas plastik, dan tidak mengandung barang-barang yang tidak dapat didaur ulang atau dikomposkan. Dalam hal kebutuhan rumah tangga seperti barang-barang kebersihan atau keperluan pribadi, memang menjadi tantangan tersendiri.
Seringkali kita kesulitan untuk menemukan sampo, sabun, deterjen, dan bahan pembersih tanpa kemasan plastik atau kertas. Namun, gaya hidup zero waste memberikan solusi untuk segala sesuatu yang tidak dapat kita beli tanpa kemasan alias dengan melakukan produksi sendiri. Pasta gigi misalnya, bisa dibuat dari soda kue, stevia, atau tanah liat herbal. Kita juga dapat dengan mudah membuat sampo buatan sendiri atau sabun mandi alami dan tidak menggunakan bahan dan kemasan plastik.
Selain itu, terdapat juga barang-barang alternatif yang dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan pribadi kita. Contohnya, tisu digantikan oleh saputangan kain, sikat gigi plastik dengan yang kayu, dan kantong plastik digantikan oleh tas kain (tote bag). Untuk peralatan listrik seperti komputer, telepon, dan lemari es harus dapat digunakan selama mungkin dan perbaiki seperlunya. Jika alat atau perangkat tidak dapat disimpan, buanglah dengan benar.
Nah, setelah kamu mengetahui apa itu gaya hidup zero waste, mungkin memang terlihat sedikit sulit. Tapi bagi kamu yang memiliki keinginan untuk menjaga lingkungan dengan menjalani gaya hidup zero waste, pasti selalu ada jalan. Yang paling penting, kreativitas adalah kunci untuk menjalani gaya hidup zero waste. Selamat mencoba!
(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

