Hits: 28

Marsha Agitha Br Tarigan / Patrycia Gloryanne Pasaribu

Pijar, Medan. Menjadi seseorang yang produktif tentunya merupakan impian semua orang. Dengan hidup produktif, setiap orang pasti mampu mengisi harinya dengan rangkaian aktivitas yang positif dan berguna. Hidup produktif sering kali menjadi khayalan saja karena manusia kerap bersahabat dengan rasa malasnya. Di luar dari itu, apakah hidup produktif selalu bernilai positif ketika seseorang mampu mencapainya?

Hidup produktif adalah gaya hidup yang dilakukan dengan rangkaian kegiatan atau aktivitas yang membuat diri sendiri berkembang dan disiplin. Orang yang produktif adalah orang yang bisa menghasilkan sesuatu dengan efisien dan efektif, serta memberikan manfaat dan keuntungan.

Gaya hidup produktif sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Hidup produktif dapat membantu seseorang dalam manajemen diri, seperti bijak dalam mengelola diri dan waktu. Selain manajemen diri, hidup produktif juga cenderung membentuk karakter seseorang menjadi kreatif dalam melakukan sesuatu dan memiliki pemikiran yang kritis. Produktif menjadi sebuah tujuan hampir bagi sebagian besar orang. Tetapi faktanya, seseorang tidak selalu dapat menjaga produktivitasnya setiap hari secara konsisten.

Kunci utama menjaga hidup agar bisa selalu produktif adalah dengan membangun kebiasaan positif dan teratur. Sebuah kebiasaan akan menentukan tindakan seseorang setiap hari yang menuntun pada aktivitas yang benar-benar produktif atau malah sebaliknya.

Menjadi produktif memang hal yang baik, tetapi perlu diingat kembali semua yang berlebihan itu tidak baik. Ketika seseorang berusaha melakukan banyak hal agar produktif di waktu bersamaan atau waktu berdekatan, hal tersebut bisa memberikan efek burnout atau stres berat, sehingga mengakibatkan munculnya toxic productivity.

Burnout adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada penurunan motivasi dan kinerja seseorang. Istilah ini biasanya terjadi ketika seseorang telah mengalami penumpukan tekanan atau beban kerja dalam beberapa kurun waktu. Bahkan, kondisi ini juga bisa membuat seseorang cenderung berperilaku negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Sedangkan, toxic productivity adalah suatu keinginan tidak sehat yang dimiliki seseorang yang ingin terus produktif setiap saat dengan segala cara. Seseorang cenderung akan merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. Walaupun pekerjaan telah selesai dilakukan, orang yang mengalami toxic productivity ini akan merasa bersalah karena merasa tidak mengerjakannya dengan cukup baik.

Bukan hanya berakibat stres berat, seseorang dengan toxic productivity cenderung tidak bisa memiliki waktu untuk keluarga, sahabat, bahkan dirinya sendiri. Sebab waktu yang ia miliki selalu dihabiskan untuk melakukan berbagai pekerjaannya.

Agar terhindar dari toxic productivity, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang dapat dicoba adalah dengan menerapkan mindfulness. Mindfulness adalah situasi di mana seseorang mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dengan cara tersebut, seseorang dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh tubuhnya untuk kebaikan dirinya sendiri.

Solusi lainnya adalah memiliki target yang jelas dan adanya bantuan orang lain. Dua hal ini adalah bagian terpenting agar seseorang dapat terhindar dari kebiasaan buruk, serta mampu menjadi lebih fleksibel dengan rencana yang dibuat. Selain itu, bercerita dengan orang juga membantu mental kita agar tetap terjaga karena adanya dukungan emosional dari kerabat dekat. Tetapi, ketika toxic productivity sudah mengganggu dan berlebihan, maka pilihan konseling psikologis dapat menjadi solusi.

Adanya pemahaman yang lebih luas tentang toxic productivity dapat membantu seseorang agar terhindar dari hal tersebut, sehingga gaya hidup produktif dapat berjalan dengan baik dan dapat membentuk pribadi dengan pola pikir yang sehat.

(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

Leave a comment