Hits: 34

Azka Luthfiah Khalda

Pijar, Medan. Tidak semua orang tumbuh dengan rumah yang terasa aman. Apa yang kita rasakan hari ini, sering kali berakar dari pengalaman di masa lalu. Dalam banyak kasus, reaksi emosional yang berlebihan bukan sekadar “drama”, melainkan respons dari luka lama yang belum benar-benar sembuh atau yang dikenal sebagai trauma psikologis.

Kondisi ini bukan hal yang jarang terjadi. Berdasarkan penelitian Global Early Adolescent Study (GEAS), setidaknya 21% anak melaporkan mengalami lebih dari lima pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa luka emosional di usia dini merupakan fenomena yang cukup luas dan berpotensi memengaruhi kehidupan hingga dewasa.

Trauma masa kecil merupakan pengalaman negatif yang dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan psikologis seseorang, termasuk dalam pembentukan identitas diri. Trauma yang tidak terselesaikan dapat memicu berbagai permasalahan emosional, seperti rendahnya harga diri, kesulitan dalam membangun hubungan, serta gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Luka-luka tersebut tidak hilang begitu saja. Ia tersimpan dalam bagian diri yang sering kali tidak disadari keberadaannya, yaitu Inner Child. Fenomena psikologi ini dapat dipahami sebagai sisi dalam diri yang menyimpan pengalaman, emosi, serta keyakinan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Hal ini terus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, serta bersikap hingga dewasa.

Menurut John Bradshaw, Inner Child berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan secara emosional. Sementara itu, Mudfidah dan Isya memandang Inner Child sebagai bagian dari diri individu yang terbentuk dari pengalaman masa kecil dan tetap memengaruhi kehidupan di masa kini.

Dalam kajian psikologi, konsep ini juga dapat dikaitkan dengan Adverse Childhood Experiences (ACEs), yaitu berbagai pengalaman negatif di masa kanak-kanak yang berpotensi memberikan dampak jangka panjang. Ketika Inner Child mengalami luka, pengaruhnya tidak berhenti di masa lalu, melainkan terbawa hingga dewasa. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi serta pengalaman menyakitkan, seperti kekerasan fisik, verbal, atau psikis, dapat menjadi akar dari trauma yang memengaruhi kesejahteraan mental seseorang.

Ketika Inner Child terluka, seseorang bisa bereaksi bukan sebagai dirinya yang sekarang, melainkan sebagai “versi kecil” dari dirinya yang dulu pernah merasa takut, ditolak, atau tidak cukup dicintai. Namun, menjadi dewasa bukan berarti semua luka itu harus dibiarkan begitu saja.

Di titik ini, Reparenting menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Melansir dari ibunda.id, Reparenting merupakan proses ketika seseorang belajar merawat dirinya sendiri di masa dewasa, seolah-olah ia mengambil peran sebagai figur pengasuh bagi dirinya. Melalui proses ini, individu berusaha memenuhi kembali kebutuhan yang dulu tidak terpenuhi, baik secara emosional maupun fisik.

Pendekatan ini bertujuan untuk memulihkan luka yang berakar dari pola keterikatan yang tidak aman atau insecure attachment pada masa kecil. Pola pengasuhan yang kurang memberikan rasa aman tersebut dapat membentuk Inner Child yang terluka dan terus memengaruhi kehidupan seseorang hingga dewasa. Dengan menjalani proses Reparenting, individu perlahan belajar memberikan rasa aman, penerimaan, dan kasih sayang kepada dirinya sendiri, termasuk pada bagian diri yang pernah terabaikan.

Terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjalani proses Reparenting Inner Child, bahkan tanpa harus berada di situasi khusus. Pertama, memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri di masa kecil. Cobalah membayangkan kembali momen yang paling membekas, lalu ucapkan hal-hal yang dulu ingin didengar.

Kedua, mengekspresikan perasaan melalui tulisan untuk menceritakan perjalanan hidup maupun mengungkapkan hal yang dahulu terpendam. Ketiga, mulai memenuhi keinginan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi di masa kecil. Terakhir, menyadari pengalaman yang pernah melukai diri di masa lalu agar dapat belajar mengelola emosi dengan lebih sehat ketika menghadapi situasi serupa.

Pada akhirnya, proses ini bukan tentang menghapus masa lalu, melainkan belajar menerima dan memahami luka yang pernah ada. Inner Child mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi ia bisa dipeluk dengan cara yang lebih sehat.

Menjadi dewasa berarti belajar hadir untuk diri sendiri bisa memberikan rasa aman, penerimaan, dan kasih sayang yang dulu mungkin belum sempat didapatkan. Karena pada akhirnya, diri kitalah yang perlu belajar menjadi rumah itu.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment