Hits: 4

Tamara Laisa Damanik

Pijar, Medan. Euforia kampanye yang mewarnai rangkaian pemilihan Raya (Pemira) Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun ini, tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat partisipasi mahasiswa pada hari pemungutan suara. Meski berbagai bentuk kampanye terlihat ramai, mulai dari penyebaran di media sosial hingga kegiatan sosialisasi kandidat, jumlah mahasiswa yang menggunakan hak pilih justru menunjukkan kecenderungan yang belum maksimal.

Naysilla Linda Ayu Pasaribu, selaku Panitia Pemira USU 2026, menjelaskan bahwa tingkat partisipasi mahasiswa tahun ini masih berada di bawah harapan. Partisipasi mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), tercatat di kisaran setengah dari mahasiswa aktif, sehingga angka yang tercatat tersebut tidak berbeda dari Pemira sebelumnya.

Ia juga menilai dinamika partisipasi tahun ini menunjukkan pola yang kontras, antara masa kampanye yang terlihat minim dan hari pemungutan suara.

“selama masa kampanye, partisipasi mahasiswa tidak terlalu terlihat. [Akan] tetapi, saat hari pemungutan suara, kondisi cukup ramai walaupun memakai sistem e-voting,” ujarnya.

Meskipun demikian, keramaian tersebut belum mampu mendorong peningkatan angka partisipasi secara signifikan. Naysilla menyebut beberapa faktor yang memengaruhi, seperti padatnya jadwal perkuliahan, minimnya informasi terkait pasangan calon, serta rendahnya minat mahasiswa terhadap politik kampus. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ramainya aktivitas Pemira dengan partisipasi mahasiswa dalam menggunakan hak pilihnya.

Ledys Sagita Barus, selaku mahasiswa FISIP yang memilih pada Pemira USU 2026, menyebut bahwa penggunaan hak suara merupakan bentuk tanggung jawab sebagai mahasiswa.

“sebagai mahasiswa, apa lagi di Ilmu Politik, kami diajarkan bahwa hak suara itu harus digunakan, setiap individu punya kesempatan untuk memilih,” tegas Ledys Sagita Barus.

Ledys juga mengapresiasi mahasiswa yang memilih, walaupun harus mengantre lama dan tetap menyayangkan mahasiswa yang tidak berpartisipasi. Selain itu, ia juga menambahkan pendapatnya bahwa kampanye yang dilakukan masih kurang menarik dan belum menjangkau seluruh mahasiswa.

“kampanyenya biasa saja, kurang menggembor. Jadi, masih banyak yang tidak tahu Pemira,” ungkapnya.

Namun, tidak semua mahasiswa memiliki pandangan serupa. Sebagian mahasiswa mengaku memilih untuk tidak berpartisipasi karena kurang tertarik pada kegiatan organisasi maupun pemilihan kampus, terlebih masih dalam tahap adaptasi sebagai mahasiswa baru.

Monika Vitagatia Damanik, selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom-TI) USU yang tidak berpartisipasi dalam Pemira USU 2026, mengungkapkan bahwa kampanye yang dilakukan pada kandidat dinilai kurang terekspos dan tidak merata. Ia juga menilai Pemira belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan mahasiswa, sehingga minat untuk berpartisipasi masih rendah.

“Saya hanya melihat spanduk salah satu kandidat, tetapi untuk yang lain kurang terlihat. Jadi, saya kurang tahu siapa saja calonnya,” jelasnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment