Hits: 37

Maureen Christy Nauli Simanjuntak

Medan, Pijar. Tuti Masni Y. Hura adalah mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2022 yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia juga terlibat dalam berbagai program sukarelawan (volunteer), kegiatan sosial, hingga ajang pemilihan duta mahasiswa di tingkat nasional. Konsistensinya dalam mengikuti berbagai kegiatan tersebut, membawanya dalam meraih sejumlah prestasi dan pengalaman yang membanggakan.

Prestasi terbaru kembali diraih Tuti pada November hingga Desember 2025, saat ia berhasil meraih Juara 3 pada Study Case Competition UI Science Olympiad 2025 yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Pencapaian yang baru ia dapatkan tersebut, menjadi salah satu hasil dari proses panjang yang ia jalani di tengah kesibukan akademik dan kegiatan lapangan. Ketika sedang mengikuti kompetisi tersebut, Tuti juga sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) yang sekaligus dipercayai sebagai ketua kelompok, sehingga ia harus mampu membagi fokus antara tanggung jawab di lokasi pengabdian dan persiapan lomba.

Motivasi untuk tetap aktif sebenarnya sudah dimiliki Tuti sejak sebelum memasuki dunia perkuliahan. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia sudah memiliki tekad untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan diri. Tekad tersebut kemudian ia lanjutkan ketika menjadi mahasiswa. Sejak semester pertama, Tuti mulai mencoba mengikuti berbagai kesempatan, salah satunya dengan mendaftar dalam ajang Duta Inspirasi Indonesia, serta program pengembangan diri lainnya.

Tanpa Banyak Privilege, Tuti Masni Yura Ciptakan Kesempatan Lewat Konsistensi dan Usaha - www.mediapijar.com
Potret kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Tuti melalui program KKN
(Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Tuti Masni Y. Hura)

 

Di tengah banyaknya kegiatan yang dijalani, Tuti menyadari bahwa kemampuan mengatur waktu menjadi hal yang paling penting agar semuanya tetap berjalan seimbang. Ia selalu mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk mengikuti suatu kegiatan, terutama agar tidak mengganggu tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Baginya, kuliah tetap menjadi prioritas, sementara kegiatan lain dijalani sebagai pendukung untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi.

“Bagi saya, sebelum memutuskan untuk ikut A, B, dan C, semua harus dipertimbangkan semaksimal mungkin. Ketika dirasa bisa, maka saya coba jalani. Saya juga sadar bahwa yang paling penting adalah menentukan skala prioritas. Bagi saya, kuliah adalah prioritas utama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa apabila suatu saat dirinya merasa kewalahan, ia tetap berusaha menyelesaikan tanggung jawab yang sudah diambil. Ia akan melakukan evaluasi untuk menentukan kegiatan mana yang perlu dilanjutkan, dan mana yang harus dihentikan.

Memasuki semester delapan, Tuti mengaku bahwa menjaga konsistensi menjadi tantangan terbesar dibanding sekadar meraih prestasi. Ia menyadari bahwa semangat untuk terus berkembang harus selalu dipupuk agar tidak berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, ia menanamkan prinsip dalam dirinya untuk tidak cepat merasa puas dengan sesuatu yang sudah dicapai.

“Saya tidak pernah merasa puas atau berhenti belajar. Justru sampai sekarang di semester delapan, saya merasa konsisten itu jauh lebih susah dibanding meraih sesuatu. Supaya tetap konsisten, saya selalu menanamkan pikiran untuk tidak pernah merasa puas, sehingga diri sendiri terus terdorong untuk mencoba banyak hal dan mau belajar hal-hal baru,” ungkapnya.

Prinsip tersebut yang membuat Tuti terus aktif mengikuti berbagai kesempatan, baik di bidang akademik maupun kegiatan di luar kampus, meskipun harus membagi waktu dengan tanggung jawab lainnya.

Bagi Tuti, setiap pencapaian yang diraih selama perkuliahan menjadi pengingat bahwa kesempatan tidak selalu datang karena privilese (privilege), tetapi bisa diciptakan melalui kemauan dan usaha. Ia percaya bahwa banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu untuk berprestasi, tetapi sering kali ragu untuk memulai atau terlalu fokus pada keterbatasan yang dimiliki.

Menurutnya, proses meraih prestasi tidak terjadi secara instan, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang dimulai sejak awal. Oleh karena itu, ia mengajak mahasiswa lainnya untuk berani mencoba, fokus pada kelebihan diri, dan mulai memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, sebagai tujuan menciptakan peluang dan pengalaman berharga bagi diri sendiri di masa depan.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment