Ankaa Publisher

Musik perkusi tradisional merupakan karya seni musik yang belakangan dianggap kuno oleh sebagian besar masyarakat, khususnya generasi milenial. Kemajuan zaman juga turut mengambil peran dalam selera musik orang. Tak sedikit dari mereka yang menggeluti musik tradisional perkusi dianggap kuno dan tidak menarik. Namun, Komunal Primitif Percussion telah berhasil mengubah pandangan ini melalui karya-karyanya.

Komunal Primitif Percussion merupakan komunitas berbasis seni musik dalam konteks kebudayaan dengan memainkan musik perkusi. Kehadiran komunitas ini membungkam pemikiran-pemikiran yang menggangap alat musik tradisional perkusi merupakan sesuatu yang kolot. Padahal pesona lantunan alat musik pukul yang dimainkan secara bersamaan dengan berbagai pola ritme ini, dapat menghasilkan alunan musik yang semangat dan kompak.

Komunal Primitif Percussion melalui hasil karyanya telah mengubah persepsi masyarakat tentang musik tradisional perkusi. Pengemasan musik yang disusun mengikuti perkembangan zaman dengan permainan yang kompak membuat penampilan dari Komunal Primitif Percussion selalu dinikmati banyak orang.

Bercerita sedikit dari pengalaman komunitas ini, dari beberapa event musik yang telah dijalani, rata-rata respon dan reaksi masyarakat sangat antusias ketika menyaksikan pertunjukan. Ketertarikan masyarakat dalam perkusi tradisional bisa kita lihat melalui apresiasi masyarakat itu sendiri ketika menyaksikan pertunjukan perkusi tradisional. Ini berarti bahwa masih banyak masyarakat yang tertarik dengan pertunjukan musik perkusi tradisional.

Komunal Primitif Percussion mengambil bagian dalam memeriahkan festival-festival dalam dan luar daerah.
Sumber Foto: Ankaa Publisher

Komunitas ini memiliki makna tersendiri dalam merepresentasikan dirinya. Komunal yang berarti berkumpul, Primitif berarti kesederhanaan sama rata dan sama rasa, dan Percussion yang memiliki makna instrumen perkusi. Sehingga secara keseluruhan makna dari komunitas ini yaitu berkumpul secara sederhana sambil memainkan instrumen perkusi.

“Eksistensi musik perkusi pastinya cukup bernilai di dunia musik atau seni pertunjukan. Sejak dulu, alat musik perkusi sangat berkontribusi dalam sebuah lagu atau karya musik yang diciptakan pekarya seni. Perkusi itu sangat berpengaruh dalam sebuah lagu (song). Berpengaruh dalam artian bahwa perkusi adalah rhytem yang memberikan nuansa dan rasa pada sebuah Lagu (song),” Ujar sintong, salah satu senior di komunitas.

Komunal Primitif Percussion sangat terbuka menerima masuknya berbagai jenis aliran musik baru karena tidak pernah ada larangan untuk menikmati genre musik apapun, kita bebas memilih genre yang kita suka. Silahkan mengikuti perkembangan zaman tetapi juga harus tetap bisa melestarikan musik khas kita.

“Cara komunal untuk bisa menginspirasi anak muda untuk melastarikan musik-musik daerah itu adalah dengan cara berkarya. Ciptakan karya baru dengan aransemen baru yang berhubungan dengan musik daerah. Dengan begitu, karya itu akan jadi berkat bagi orang lain. Tentu saja ketika karya kita jadi berkat buat orang lain, itu artinya kita sudah menginspirasi mereka,” Ujar Sintong.

Komunal Primitif Percussion telah banyak mengambil peran khususnya di dunia musik Nusantara. Dilihat dari segi sosial dan edukasi bahwa Komunal Primitif secara tidak langsung telah menginspirasi dan menekankan kepada banyak anak muda tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian alat musik tradisional.

Melalui pertunjukan-pertunjukan dan perlombaan, komunitas ini memperkenalkan kembali alat musik tradisional di masyarakat. Karya seni musik perkusi yang dikemas secara kekinian membuat hasil karya mereka dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Boleh mengikuti perkembangan zaman tetapi budaya juga harus tetap dilestarikan.

“Sejauh yang saya alami dan amati tentu saja musik perkusi ini berkembang. Bisa kita lihat dari semakin banyak nya grup-grup perkusi yang terbentuk di Indonesia khususnya satu dekade terakhir ini. Baik itu di kalangan kampus seni atau di kalangan komunitas masyarakat. Yang pasti, salah satunya Komunal Primitif Percussion,” Tutup Sintong.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment