Hits: 15
Theodora Stephanie Laowo
Pijar, Medan. Kehadiran Kopi Mandja di industri kopi Indonesia membawa kisah unik yang memadukan dedikasi, kualitas premium, dan kehangatan hubungan. Nama “Mandja” sendiri bukan sekadar kata sifat, melainkan singkatan bermakna dari Simalungun dan Jawa yang merupakan asal daerah pasangan pendiri Kopi Mandja. Nama ini diberikan sebagai bentuk representasi perjalanan hidup keduanya, di mana sang suami merupakan asli suku Simalungun dan istrinya berasal dari Jawa Timur.
Perjalanan Kopi Mandja dimulai dari Kota Bandung pada tahun 2017. Sang pendiri yang memiliki latar belakang sebagai fotografer dan perajin kulit, awalnya hanya ingin menyediakan tempat bagi pelanggan bisnisnya untuk bersantai sambil melihat proses produksi. Namun, antusiasme pengunjung terhadap kopi yang disajikan justru berkembang pesat, hingga akhirnya fokus sepenuhnya dialihkan untuk mengembangkan Kopi Mandja sebagai bentuk dedikasi kepada istrinya yang setia menemani sejak masa rintisan.
Salah satu kekuatan utama Kopi Mandja terletak pada bahan bakunya. Dengan menggunakan 100% biji kopi Arabika Grade A (Premium), Kopi Mandja bekerja sama langsung dengan para petani di Simalungun. Proses pengolahan dilakukan secara selektif, mulai dari penjemuran di greenhouse milik sendiri yang berlokasi di Simalungun, hingga proses roasting yang dipusatkan di Bandung sebelum didistribusikan ke seluruh outlet. Hal ini memastikan cita rasa kopi tetap stabil dan berkualitas tinggi di setiap cangkir yang disajikan.
Salah satu menu yang paling dikenal adalah Es Kopi Mandja, yaitu kopi susu dengan campuran espreso, susu, dan gula aren yang menghasilkan rasa creamy dan seimbang. Selain itu, tersedia juga berbagai pilihan lain seperti latte, cappuccino, hingga minuman non-kopi yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

(Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Christine May Lani)
Kopi Mandja resmi menyapa warga Medan pada akhir Juni 2025 dengan pembukaan outlet pertama di daerah Gatot Subroto. Tak butuh waktu lama, di awal Oktober 2025, outlet kedua dibuka dengan konsep unik yang menyesuaikan dengan bangunan lama di areanya, menciptakan suasana vintage dan modern yang estetik.
Menariknya, meskipun identik dengan kopi, Kopi Mandja juga menyediakan pilihan minuman non-kopi sehingga tetap dapat dinikmati bagi yang tidak mengonsumsi kafein. Di cabang S. Parman, mereka bahkan menghadirkan menu makanan yang bisa menemani waktu nongkrong atau sekadar istirahat sejenak.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, Kopi Mandja sudah punya basis pelanggan yang cukup kuat. Tingkat kunjungan dan pesanan ulang sangat tinggi, baik dari pelanggan yang datang langsung maupun melalui layanan daring.

(Fotografer: Theodora Stephanie Laowo)
Berbeda dengan kopi lainnya, Kopi Mandja tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pengalaman. Interaksi antara pegawai dan pelanggan dibuat lebih hangat dan santai.
“Harapannya, pelanggan yang datang dan pulang merasa bahagia, sehingga mereka selalu rindu dan ingin kembali lagi,” ujar Ruth, Head of Store Kopi Mandja Medan.
Dengan harga yang tetap terjangkau, Kopi Mandja mencoba menjangkau lebih banyak orang tanpa mengorbankan kualitas.
“Di sini, kami ingin semua orang bisa menikmati kopi tanpa merasa terbebani, baik dari sisi rasa, harga, maupun pengalaman,” tambahnya.
Lewat konsep ini, Kopi Mandja merangkum identitasnya dalam satu kalimat sederhana, #SetiapHariDiMandja, yang mencerminkan upaya mereka untuk menjadi tempat singgah yang nyaman bagi para pelanggannya.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

