Hits: 34

Athayollah Nailah Zahwa Nasution

Pijar, Medan. Keterlambatan dalam kegiatan mahasiswa kerap terjadi di lingkungan kampus. Sejumlah agenda organisasi tidak berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan meskipun waktu pelaksanaan sudah diinformasikan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan lemahnya kedisiplinan dalam pelaksanaan kegiatan dan menjadi pola yang terus berulang.

Fatimah, mahasiswa non-organisasi, mengaku sering menemukan acara yang tidak berjalan tepat waktu meskipun peserta sudah hadir sesuai jadwal. Ia menyatakan bahwa keterlambatan umumnya terjadi sekitar 15–30 menit, bahkan bisa lebih lama tergantung kondisi di lapangan. Situasi tersebut membuat peserta harus menunggu tanpa kepastian waktu dimulainya acara.

“Terkadang sudah datang sesuai jadwal, tetapi acaranya belum mulai, jadi harus menunggu,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa informasi terkait keterlambatan tidak selalu disampaikan secara jelas oleh panitia kepada peserta. Dalam beberapa kegiatan, peserta hanya diminta menunggu tanpa penjelasan rinci mengenai penyebab keterlambatan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hal seperti ini terjadi lebih dari satu kali.

Hal serupa disampaikan Mouza Assifa Rianda, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus. Dalam satu bulan terakhir, ia mencatat terdapat dua hingga tiga kegiatan yang tidak dimulai sesuai jadwal. Rata-rata keterlambatan yang terjadi berkisar antara 10-15 menit. Ia menjelaskan bahwa durasi tersebut sangatberpengaruh terhadap efisiensi waktu pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, keterlambatan sering terjadi karena menunggu kehadiran peserta tertentu atau adanya kendala teknis di lapangan. Selain itu, aturan ketepatan waktu sebenarnya sudah ada dalam organisasi, tetapi belum dijalankan secara konsisten oleh seluruh anggota. Hal ini menyebabkan kegiatan tidak selalu berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

Sementara itu, M. Ilbar Gifari, pengurus Himpuan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Mahasiswa Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara (Masadepant USU), menyatakan bahwa pada periode terakhir kegiatan cenderung lebih tertata dibanding sebelumnya.

“Biasanya ditunda sampai 10 menit kalau peserta masih banyak yang belum datang, setelah itu kegiatan tetap berlanjut,” jelasnya.

Keterlambatan sering berkaitan dengan benturan jadwal kuliah dan kegiatan mahasiswa yang cukup padat. Meskipun begitu, ketepatan waktu tetap menjadi bagian dari komitmen dalam organisasi. Upaya penegasan disiplin biasanya dilakukan melalui pengingat dan evaluasi internal. Namun, penerapannya masih bergantung pada kesadaran masing-masing anggota.

Situasi ini menjelaskan bahwa persoalan ketepatan waktu masih menjadi tantangan  dalam pelaksanaan kegiatan mahasiswa. Tanpa adanya kesadaran kolektif dan disiplin yang dijalankan secara konsisten, keterlambatan akan terus berulang dan berdampak pada efektivitas serta profesionalitas kegiatan di kampus.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment