Hits: 34

Reporter Pijar

Pijar, Medan. Saat ini, di Indonesia diperkirakan jumlah kasus baru Tuberkulosis (TBC) hampir satu juta orang (969.000 orang). Data Global TB Report mengestimasikan 73,8% (715.000) kasus TBC di Indonesia berusia 15-64 tahun, dan rata-rata kasus TBC di Indonesia berasal dari usia produktif. Oleh karena itu, Universitas Sumatera Utara (USU) berkolaborasi dengan Bakrie Center Foundation (BCF) melakukan skrining kesehatan dan TBC bagi mahasiswa baru di Gedung Pancasila USU pada 12-16 Agustus 2023.

Kegiatan ini juga melibatkan Kadin Indonesia, Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Indonesia Muda untuk Tuberkulosis, Yayasan Mentari Meraki Asa, Kementerian Kesehatan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dalam implementasi Program Kolaborasi Multistakeholder & Multiyears dalam Percepatan Eliminasi TBC Sebelum Tahun 2030.

Rektor USU, Muryanto Amin menjelaskan pentingnya melakukan skrining kesehatan dan TBC dengan bantuan metode Artificial Intelligence (AI) guna mendeteksi mahasiswa baru USU agar dapat mengantisipasi TBC sedari dini.

“Ini penting karena menunjukkan ketahanan mahasiswa, terus nanti cara belajar dia bagaimana, kalo dia gak sehat kan kesulitan. Paling begitu nanti dapat, ada penyakit yang ditemukan di sini, itu langsung di poli klinik mereka dirawat. Dirawat jalan ada yang kalau TBC tadi tuh perlengkapannya lebih bagus lagi,” ucap Muryanto pada wawancara Rabu (16/08/2023).

Tes Skrining USU
Mahasiswa baru USU melakukan tes kesehatan dan TBC (16/08/23)
(Fotografer: M. Rais Sihombing)

Skrining TBC ini melibatkan 2.620 mahasiswa baru USU dengan alur pelaksanaan skrining gejala klinis TBC sendiri secara teknis. Alur dari skrining antara lain, pertama mahasiswa diminta mengukur suhu tubuh melalui link aplikasi SOBAT TB. Kemudian, masuk ruang tunggu dan mengisi formulir https:/bit.ly/skriningtbusu, sambil menunggu antrean mahasiswa diedukasi terkait penyebaran TBC. Selanjutnya, proses skrining dengan menggunakan X-ray atau Tes Cepat Molekuler (TCM).

Lewat hasil skrining TBC ini, akan ada tindak lanjut dari pihak universitas jika menemukan mahasiswa yang terindikasi positif TBC. Mahasiswa yang terduga TBC berdasarkan assessment awal akan dirontgen dengan menggunakan X-ray dengan teknologi AI yang didukung oleh Kadin Indonesia, DELFT Imaging, dan Klinik Anugerah Ibu.

Salah satu mahasiswa baru Psikologi USU 2023, Ivansyah Saragih, mengatakan dirinya cukup antusias untuk mengetahui hasil tes skrining TBC dari AI tersebut.

“Perasaannya cuma deg-degan dan was-was gitu karena ini teknologi baru, ya. Kita juga tahu pasti dampaknya apa karena kan ini rontgen jadi, ya dampaknya untuk kesehatan ada. Jadi memang disarankan,” ucapnya.

Muryanto berharap dengan adanya teknologi AI yang digunakan, dapat mendeteksi secara lebih cepat dan akurat sehingga mahasiswa USU dapat belajar dan beradaptasi terhadap semua perubahan yang mereka akan alami.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment