Hits: 47
Alfihza Putri Amelia
Pijar, Medan. Pernah membayangkan lari sambil menggendong pasangan dengan melewati berbagai rintangan demi memenangkan bir? Bukan adegan komedi, melainkan tradisi unik asal Finlandia yang dikenal dengan sebutan Eukonkanto. Diadakan di kota kecil di Finlandia, perlombaan ini telah dihadiri oleh lebih dari 200 pasangan kompetitor yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Resmi digelar sejak 1992, Eukonkanto tidak hanya menjadi hiburan unik saja. Berkembang dari kompetisi lokal Finlandia, kejuaraan olahraga ini menarik minat ratusan peserta yang tidak hanya atlet profesional atau penggemar olahraga di akhir minggu, tetapi juga pasangan yang menyukai petualangan dan ingin menjadikan ajang kejuaraan ini sebagai momen mempererat hubungan.
Mengutip dari sportmanual.co.uk, olahraga ini memadukan ketahanan fisik, kerja sama, dan kepercayaan antar pasangan untuk menempuh lintasan dengan berbagai rintangan seperti air dan lumpur. Belum lagi dengan posisi pasangan yang harus digendong dengan posisi menghadap ke bawah.
Eukonkanto merupakan ajang kejuaraan olahraga yang berakar dari sebuah legenda yang lama berkembang dan dipercaya oleh masyarakat Finlandia pada abad ke-19. Legenda tersebut menceritakan Rosvo-Ronkainen, pemimpin kelompok yang kerap menyerang desa-desa di Finlandia untuk mengambil makanan dan menculik perempuan desa. Para perempuan itu dibawa kabur dengan cara digendong di punggung, mirip dengan posisi olahraga Eukonkanto yang kita kenal saat ini.
Olahraga ini menjadi contoh yang baik tentang bagaimana sejarah lokal dan legenda rakyat Finlandia dimanfaatkan secara kreatif, hingga berhasil menciptakan ajang kejuaraan internasional yang membawa perhatian dunia ke sebuah wilayah pedesaan kecil, yakni Sonkajarvi.
Dalam pelaksanaannya, sebagaimana dikutip dalam artikel Medical Journal of Australia yang ditulis oleh I. M. Lee, S. Titze, dan P. Oja (2011), olahraga ini memiliki peraturan bahwa lintasan yang digunakan sepanjang 235,5 m. Pasangan yang digendong dalam permainan ini, harus memiliki beban tubuh minimal 49 kg. Beban tubuh pasangan menjadi penting, karena ini yang menjadi penentu berat bir yang didapatkan oleh pemenang di akhir kompetisi.
Menurut penelitian I. M. Lee, S. Titze, dan P. Oja (2011), ditemukan teknik yang membuat pasangan kompetitor bergerak lebih cepat dibandingkan teknik menggendong lainnya, yaitu estonian carry. Teknik ini, membuat pasangan yang digendong dalam posisi terbalik dengan kaki melingkari bahu pembawa, sambil berpegangan pada pinggangnya.

Sumber Foto: folkloresuomifinland.fi
Teknik estonian carry tidak menjadi satu-satunya teknik dalam olahraga ini. Dikutip dari artikel penelitian Leskinen pada tahun 2012, secara umum ada tiga teknik menggendong, yakni teknik piggyback, the fireman’s carry, dan estonian carry. Teknik piggyback memosisikan pasangan yang digendong seperti posisi duduk menumpang di punggung pembawa. Teknik fireman’s carry menggendong pasangan dengan posisi tubuh melintang di bahu pembawa.
Eukonkanto menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi perpaduan antara kekuatan fisik, kerjasama, dan kepercayaan antar pasangan. Dengan lintasan penuh tantangan, tidak heran jika olahraga ini menarik perhatian peserta dan penonton dari berbagai negara. Selain itu, olahraga ini membuktikan bahwa tradisi yang sederhana pun, dapat berkembang menjadi olahraga yang unik sekaligus menghibur.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

