Hits: 46
Angel Charoline Panjaitan
Pijar, Medan. Anak-anak tentunya ingin hidup bahagia dan nyaman. Namun, dalam novel Di Tanah Lada, karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, sesuatu kebahagiaan itu terasa sulit diraih. Dunia yang dihadirkan bukan tentang tawa, melainkan tentang rumah yang dipenuhi pertengkaran dan kekerasan hingga makna masa kecil kehilangan kehangatannya. Melalui sudut pandang Salva, atau yang biasa dipanggil Ava, pembaca diajak melihat bagaimana dunia anak bisa terasa begitu “pedas” seperti lada.
Dari sudut pandang kepolosan Ava, realitas yang keras sebenarnya tampak lebih nyata. Kisah ini bukan hanya cerita, melainkan gambaran pahit tentang dunia orang dewasa yang gagal menjadi tempat aman. Ava digambarkan sebagai anak yang unik dan cerdas, tetapi juga berbeda dari kebanyakan teman seusianya. Ia membawa kamus ke mana pun pergi, agar memahami setiap kata yang ia dengar. Baginya, kata-kata bukan sekadar bunyi, tetapi sesuatu yang harus dimengerti maknanya.
Kebiasaan itu berawal dari hadiah sederhana kakeknya, sosok yang paling menyayangi Ava. Kamus menjadi simbol usahanya mencari kebenaran di tengah dunia yang sering kali membingungkan. Namun, seperti pesan sang kakek, menemukan kebenaran di dunia nyata jauh lebih sulit daripada mencarinya dalam buku. Perbandingan terbesar dalam hidup Ava terletak pada keluarganya sendiri. Di mata ibunya, ia adalah anak yang cerdas dan membanggakan orang tua.
Sebaliknya, sang ayah melihatnya sebagai beban keluarga dan tidak segan memanggil Ava dengan sebutan yang merendahkan, yaitu Salva (Saliva). Kekerasan yang terjadi di rumahnya membentuk ruang tumbuh yang tidak sehat bagi seorang anak. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat perlindungan, justru berubah menjadi sumber ketakutan. Dari sinilah pembaca mulai memahami bahwa luka tidak selalu berupa fisik. Namun, dapat juga lahir dari kata-kata yang terus diulang secara perlahan, sehingga berubah menjadi keyakinan yang akan sulit dihilangkan.
Konflik dalam keluarga Ava memperlihatkan bagaimana kekuasaan dalam keluarga sering kali membuat suara anak tidak didengar. Orang dewasa memiliki kendali penuh atas suara dan keputusan, sementara anak hanya bisa menerima keadaan. Dalam posisi itu, Ava mencoba bertahan dengan caranya sendiri. Mulai dari memahami bahasa, mencari arti, dan menyusun logika atas peristiwa yang tidak ia pahami. Kamus yang selalu dibawanya bukan lagi sekadar buku, melainkan alat perlindungan diri.
Ia percaya bahwa dengan memahami kata, ia dapat memahami dunia yang terasa tidak adil. Namun, semakin ia mencari arti, semakin jelas bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan mudah. Ada emosi yang tidak tertulis dalam definisi kamus, ada luka yang tidak memiliki padanan kata yang tepat.
Di titik inilah novel Di Tanah Lada menjadi lebih dari sekadar kisah yang sedih tentang seorang anak. Kisahnya menjadi refleksi tentang pentingnya rasa aman dalam keluarga. Di Tanah Lada bukan hanya metafora tentang “kepedasan” hidup. Namun, sebutan ini juga bermakna tentang kekuatan seorang anak yang berusaha tetap memahami dunia, walaupun tidak selalu ramah.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

