Hits: 214

“Moon, tell me if I could, Send up my heart to you?”

“So, when I die, which I must do. Could it shine down here with you?”

Lowla Santa Claudia Manurung / Rais Sihombing

Pijar, Medan. Berawal dari senandung selepas berbelanja, seorang penyanyi mendapat inspirasi untuk menciptakan sebuah karya. Dialah Mitski, yang kembali hadir dengan lagu terbaru berjudul “My Love Mine All Mine”. Merupakan single ketiga dari album bertajuk The Land Is Inhospitable and So Are We, lagu ber-genre alternatif tersebut langsung menarik banyak perhatian masyarakat dan viral sejak dirilis pada 15 September lalu.

Sejak merilis album debut pertamanya yang berjudul Lush pada tahun 2012, Mitski terus konsisten berkarya dengan lagu-lagu yang poetic dan menyayat hati para pendengarnya, termasuk lagu “My Love Mine All Mine”. Melihat dari mata dan sudut pandang Mitski, kita disuguhkan dengan penggambaran mendalam mengenai cinta yang abadi dan tulus.

Lagu ini dimulai dengan deskripsi yang puitis tentang bulan yang bersinar terang di langit malam.

Moon, a hole of light,

Through the big top tent up high,

Here before and after me,

Shinin’ down on me.

Melalui sajak tersebut, Mitski menyampaikan bahwa bulan beserta sinarnya sudah ada sejak ia belum lahir dan akan terus seperti itu hingga ia meninggalkan dunia ini.

Moon, tell me if I could, Send up my heart to you?

So, when I die, which I must do, Could it shine down here with you?

Menyadari akan adanya keabadian, Mitski berniat menitipkan cinta yang ia miliki. Harapannya, ketika Mitski sudah pergi meninggalkan dunia ini, cinta tersebut masih ada dan abadi menyinari bumi bersama rembulan.

Mengutip dari kanal YouTube resmi Genius.com, Mitski menyampaikan perspektif yang ia tuangkan dalam lagu ini.

I was thinking how sad it was that not that I had to die, but that I had to stop living. Because I love living life. I love the people, I love the world. And so I was thinking I wish this love in me that is temporary could go up to the eternal moon and keep shining down with it.

“Aku hanya berpikir betapa sedihnya hal tersebut. Bukan karena aku harus mati, tetapi karena aku harus berhenti hidup. Karena aku suka menjalani hidup, aku mencintai orang-orang, aku mencintai dunia. Jadi, aku berpikir, aku berharap cinta dalam diriku, yang hanya sementara, bisa naik ke bulan yang abadi dan terus bersinar bersamanya,” ungkap Mitski.

My Love Mine All Mine - www.mediapijar.com
Cover Album Mitski “The Land Is Inhospitable and So Are We”.
(Sumber Foto: genius.com)

Dalam proses kepenulisan lagu ini, Mitski juga menyadari bahwa tidak ada hal yang betul-betul abadi. Semuanya bersifat sementara dan tidak ada hal yang betul-betul kita miliki.

Namun, tiba-tiba ia sadar ada satu hal yang sepenuhnya menjadi miliknya, yakni cinta. Hanya cintalah yang kita miliki dan yang abadi. Tidak seorang pun dapat mengambil cinta yang kita miliki walaupun kita sudah meninggalkan dunia.

Melalui konten video dan reels yang menggunakan lagu ini sebagai background song, lagu ini terbukti viral juga populer hingga menduduki peringkat ke-76 di Billboard Hot Top 100. Lagu ini juga berhasil mencapai posisi ke-145 di Spotify Chart. Pencapaian tersebut membuktikan bahwa Mitski telah berhasil membuat sebuah karya yang mengisi hati banyak orang.

Lagu “My Love Mine All Mine” sendiri sering dijadikan publik sebagai representasi dari apa yang mereka rasakan. Banyak pihak merasakan hal yang sama dengan apa yang ingin disampaikan Mitski dalam lagu ini. Segala emosi terwakili dimulai dari kesepian, merindu, hingga bentuk tertulus dari suatu perasaan, yaitu cinta.

I learned what my heart was worth, and how beautiful my heart is through loving and caring for other people.”- Mitski

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment