Gambaran Ironi Budaya Melayat di Indonesia

Sumber Foto: https://twitter.com/wwwwinnerrrr

Aqillah Syahza Non/Valencia Christiani Zebua

‘Papamu sakit apa?’

‘Papa kamu kok ga minum obat herbal aja?’

 – Turut berdukacita

Pijar, Medan. Menerima kabar duka merupakan hal yang sangat menyesakkan. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan, mengucapkan belasungkawa, menguatkan orang-orang yang merasa ditinggalkan dan melayat. Bagi mereka yang ditinggalkan, tentu terdapat perasaan duka mendalam yang mungkin bisa membuatnya lebih sensitif. Oleh karena itu, sebagai pelayat kita sebaiknya memperhatikan apa saja yang harus dilakukan pada saat melayat agar tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang-orang yang ditinggalkan.

Film pendek berjudul Turut Berdukacita menggambarkan budaya melayat di Indonesia secara ironi, benarkah demikian? Bercerita tentang Maria, seorang anak perempuan yang baru saja kehilangan ayahnya dan harus menceritakan kronologi kematian ayahnya kepada para pelayat yang ‘kepo’. Penonton bahkan dibuat akrab dengan Mie Depot Mas Agus karena Maria, harus mengulang cerita yang sama terus menerus kepada pelayat yang bergantian datang dari hari masih terang hingga gelap.

Adegan yang membuat penonton lebih miris adalah ketika terdapat beberapa tamu yang malah menyarankan alternatif lain seperti obat yang dianggap lebih baik, rumah sakit yang dianggap lebih kompeten, bahkan cara hidup yang sekiranya harus dihindari. Hal tersebut mereka ucapkan seakan dapat menghidupkan kembali ayah Maria yang sudah terbujur kaku. Sangat ironi, ketika semestinya melayat merupakan momen untuk menyampaikan empati dan menguatkan orang-orang yang ditinggalkan, malah menjadi ajang basa-basi.

Mirisnya lagi, ternyata penggambaran ironi momen melayat yang dialami Maria sangat banyak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia, salah satunya seperti yang dituturkan oleh akun bernama Syifa Ramadhani dalam kolom komentar film tersebut.

“Dua bulan yang lalu mamaku meninggal dan sampai satu minggu aku mengalami hal ini. setiap tamu yang datang atau teman yang mengirim pesan pasti tanya, ‘nyokap lo kenapa? nyokap lo sakit apa?’ Dan segala pertanyaan lanjutan demi memenuhi rasa penasaran mereka. Jujur capek jawabnya, sakit banget harus ngulang-ngulang lagi. Tapi kalau gak dijawab juga gak enak karena mereka sudah datang. Serba salah,” tuturnya.

Film Turut Berdukacita mendapatkan banyak apresiasi dan pujian dari para penonton karena dinilai sangat relate dengan pengalaman mereka. Film ini mewakilkan perasaan mereka yang memiliki pengalaman yang sama dengan tokoh Maria. Respon yang didapat melalui film singkat berdurasi 10 menit 54 detik ini menunjukkan bahwa masih banyak kejadian ironi dalam momen melayat yang terjadi di Indonesia.

Film ini hadir sebagai pengingat agar lebih berempati pada keluarga ataupun orang-orang yang ditinggalkan dan menghindari basa-basi yang tidak terlalu diperlukan di saat sulit mencari topik pembicaraan. Tidak hanya bagi orang lain, namun bagi diri kita sendiri jika selama ini secara tidak sadar, kita pernah menjadi tamu Maria yang cukup menyebalkan dengan basa-basinya. Karena orang yang ditinggalkan tidak membutuhkan saran pengobatan atau rumah sakit melainkan penguatan, ucapan, dan doa yang tulus.

“Kita sering lupa bahwa saat melayat, kita datang ke tempat orang yang sedang berduka. Malah menjadikannya ajang reuni, interview, sekedar memenuhi hasrat penasaran, bergosip. Bercanda di depan mayat. Mewawancara anggota keluarga yang kantung matanya sudah begitu tebal tapi mereka tidak punya waktu untuk berduka,” tulis salah satu akun bernama Panggih Restianty Pamungkas dalam kolom komentar film tersebut.

Skenario dan naskah film ini ditulis oleh Winner Wijaya yang berperan juga sebagai sutradara. Pada akun Twitter miliknya, ia bercerita bahwa ide film ini merupakan kejadian nyata yang terjadi saat ia melayat ayah temannya. Bahkan, hampir semua dialog di film itu berdasarkan pengalaman asli temannya. Film ini diproduksi pada tahun 2018 dan telah mendapatkan berbagai penghargaan baik secara nasional maupun internasional. Pada tanggal 13 Desember 2020, film ini diunggah secara perdana di kanal YouTube Winner Wijaya, dan pada 11 Januari 2021 telah ditonton sebanyak 196.715 kali.

(Editor: Widya Tri Utami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *