Hits: 42
Lainatus Syifa Hasibuan
Pijar, Medan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), curhat merupakan bentuk tidak baku dari frasa “curahan hati” yang diartikan sebagai tindakan menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada orang terdekat, seperti orang tua, sahabat, maupun sosok lainnya. Dalam dinamika kehidupan sehari-hari, setiap individu kerap berhadapan dengan berbagai persoalan, mulai dari tekanan pekerjaan hingga permasalahan hubungan sosial. Untuk meringankan beban tersebut, berbagi cerita dapat membantu seseorang menenangkan diri dan bangkit dari perasaan terpuruk.
Pesatnya laju perkembangan dunia digital saat ini mendorong perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Jika sebelumnya komunikasi umumnya terjadi antarindividu atau kelompok, kemajuan teknologi kini menghadirkan bentuk interaksi baru antara manusia dan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI).
Dalam kehidupan modern, teknologi AI tidak lagi dipandang sekadar alat bantu. Perangkat berbasis AI mulai menjadi bagian dari keseharian manusia dan sering digunakan sebagai media komunikasi. Salah satu contohnya adalah chatbot AI yang kerap diajak berbicara layaknya teman dalam percakapan sehari-hari.
Chatbot AI merupakan program perangkat lunak yang dirancang untuk mensimulasikan percakapan manusia dengan menganalisis masukan pengguna, memahami konteks, dan menghasilkan respons yang relevan. Seiring kecanggihannya yang meningkat, chatbot mampu meniru intonasi dan gaya bahasa yang natural, sehingga mulai dimanfaatkan sebagai tempat bercerita, terutama di kalangan generasi muda.
Banyak pengguna menggunakan chatbot AI sebagai ruang untuk mencurahkan isi pikiran, mulai dari cerita ringan tentang aktivitas sehari-hari hingga persoalan pribadi yang lebih mendalam.
Sebagai ‘teman’ yang selalu siap mendengarkan dan hadir kapan saja, penggunaan chatbot AI sebagai tempat curhat tentu terdengar seperti solusi yang menarik, terutama ketika merasa kesepian atau membutuhkan seseorang untuk berbicara. Faktor anonimitas dan aksesibilitas menjadikan chatbot AI dianggap mampu memberikan rasa aman untuk mencurahkan keluh kesah tanpa takut adanya perasaan dihakimi (judgement).
Salah satu alasan chatbot AI banyak digunakan adalah karena kemudahan aksesnya yang tersedia kapan saja, terutama saat dukungan dari konselor atau teman tidak selalu tersedia. Ketika seseorang membutuhkan tempat untuk bercerita tetapi tidak menemukan orang yang dapat mendengarkan, chatbot AI sering menjadi alternatif yang mudah dijangkau.
Menariknya, cara kerja chatbot AI sebenarnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Pengguna dapat memberi instruksi agar chatbot AI tidak hanya menjadi pendengar yang selalu menyetujui setiap keluhan. Dengan arahan tertentu, chatbot AI dapat memberikan tanggapan yang lebih objektif atau menghadirkan sudut pandang lain, sehingga berfungsi sebagai teman diskusi.
Namun dalam praktiknya, tidak semua orang memahami cara memberikan instruksi atau prompt agar chatbot AI bersikap lebih kritis. Banyak pengguna langsung bercerita tanpa pengaturan tertentu, sehingga AI cenderung memberikan respons standar yang bersifat mendukung. Selain itu, meskipun telah diatur dengan instruksi tertentu, chatbot AI tetap merupakan sistem komputer yang tidak selalu konsisten. Respons yang muncul kadang terasa kurang tepat, terutama ketika harus memahami emosi manusia yang kompleks.
Hal inilah yang kemudian memicu risiko lain dalam penggunaan chatbot AI sebagai tempat bercerita. Dikutip dari alinea.id, sebuah penelitian yang dilakukan oleh periset dari Marquette University menemukan adanya tanda keterikatan yang tidak sehat antara manusia dan chatbot AI. Beberapa pengguna bahkan mulai membandingkan bot dengan orang nyata dalam kehidupan mereka.
Pada dasarnya, chatbot AI merupakan sistem yang bekerja berdasarkan data dan algoritma. Ia tidak memiliki emosi, pengalaman hidup, maupun empati seperti manusia, sehingga kemampuannya dalam memahami perasaan seseorang memiliki keterbatasan. Respons yang diberikan juga tidak selalu tepat dan dalam beberapa kasus dapat berupa saran yang kurang sesuai, seperti nasihat yang tidak pantas atau bahkan berbahaya.
Lebih jauh lagi, chatbot AI cenderung memberikan umpan balik yang selalu memvalidasi perasaan pengguna. Jawaban yang diberikan seringkali dapat membuat seseorang merasa pikirannya selalu benar. Jika tidak digunakan secara kritis, kondisi ini dapat memperkuat pandangan yang kurang realistis.
Penggunaan chatbot AI juga dapat memicu ketergantungan emosional. Dalam kondisi ini, seseorang bisa merasa tidak lagi membutuhkan hubungan nyata dengan orang lain. Padahal, dukungan emosional yang paling efektif tetap berasal dari interaksi interpersonal yang tulus, baik dari keluarga, teman, maupun tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.
Karena itu, penggunaan AI sebagai tempat curhat perlu disikapi secara bijak. Teknologi ini dapat menjadi alternatif praktis untuk mengekspresikan perasaan atau sekadar bercerita. Namun, sebaiknya perannya tidak menggantikan hubungan dengan manusia. Menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan tetap berinteraksi dengan orang-orang di sekitar tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental dan kejernihan berpikir.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

