Hits: 20

Lainatus Syifa Hasibuan

Pijar, Medan. Bagi sosok Dinny Rahmayani Zebua, keberdayaan adalah kemampuan untuk memberi manfaat dan menghadirkan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi, sekecil apa pun langkah yang diambil. Filosofi inilah yang menjadi kompas dalam setiap perjalanan sosial yang ia tempuh.

Dalam kesehariannya, Dinny aktif dalam berbagai ruang kolaborasi terbuka. Melalui berbagai inisiatifnya, ia berupaya menciptakan wadah yang mendorong anak muda untuk berani berkembang dan mengenali potensi diri. Bagi Dinny, proses bertumbuh dimulai dari keberanian mencoba hal baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Semangat pemberdayaan ini juga berakar kuat dari latar belakang pendidikannya. Sebagai lulusan S-1 Pengembangan Masyarakat Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Dinny merasa terpanggil untuk lebih aktif menyuarakan isu-isu sosial. Ia secara konsisten memanfaatkan media sosial sebagai ruang berbagi pengalaman, motivasi, dan edukasi bagi generasi muda.

Dedikasi tersebut sebenarnya telah terpupuk sejak masa kuliah. Dinny pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Mahasiswa Berprestasi periode 2023–2024. Dalam peran tersebut, ia berhasil menginisiasi berbagai gerakan baru yang memotivasi mahasiswa untuk lebih aktif berkarya dan berprestasi.

Sosoknya semakin dikenal publik setelah terpilih sebagai Winner Putri Hijabfluencer Sumatera Utara 2025. Gelar ini ia maknai sebagai amanah besar untuk membawa nilai-nilai positif dan gagasan yang lebih luas kepada masyarakat. Salah satu manifestasi nyata dari gagasan tersebut adalah lahirnya komunitas Teman Dinny.

Dibentuk pada 1 Mei 2025 di Kota Medan, Teman Dinny hadir dari pengamatan Dinny terhadap fenomena anak muda yang sering merasa “berjuang sendirian” saat ingin keluar dari zona nyaman. Dengan memosisikan Teman Dinny sebagai seorang “teman”, ia berharap setiap anak muda di Kota Medan tergerak untuk berkembang melalui berbagai aksi sosial dan pemberdayaan. Inisiatif ini hadir sebagai jawaban bagi jiwa-jiwa muda yang sering kali merasa berjuang sendirian dalam proses bertumbuh.

Salah satu fokus utama yang diangkat Teman Dinny adalah inklusivitas bagi penyandang disabilitas, khususnya komunitas Tuli. Dinny menyadari bahwa akses dan ruang pemahaman masyarakat terhadap Teman Tuli di Medan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Teman Dinny mulai membuka ruang pertemuan inklusif antara Teman Tuli dan masyarakat umum.

Dalam kegiatan ini, para relawan yang bergabung dijuluki sebagai “Teman Dengar”. Mereka diajak berinteraksi langsung, belajar berkomunikasi lewat bahasa isyarat, hingga membangun empati melalui pengalaman hidup teman Tuli.

Melansir tribunnews.com, Dinny menyampaikan bahwa langkah awal yang ia lakukan adalah membuka kelas bahasa isyarat. Menurutnya, pemahaman menjadi hal penting sebelum merancang program yang lebih luas.

“Saya ingin benar benar memahami dunia mereka sebelum merancang program yang lebih besar,” jelasnya.

Mimpi Dinny tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Ia berencana menghadirkan ruang yang lebih berkelanjutan bagi teman tuli melalui pembentukan komunitas belajar, hingga menghadirkan sebuah kafe yang dikelola oleh teman tuli. Kehadiran kafe tersebut bertujuan sebagai wadah untuk ruang inklusif, sekaligus memberi kesempatan bagi mereka untuk berkarya dan mandiri.

“Ini akan menjadi ruang inklusif, agar mereka bisa mandiri dan terintegrasi dengan masyarakat,” paparnya.

Melalui langkah nyata ini, Dinny berharap dapat memantik keberanian lebih banyak orang untuk bergerak, berdaya, dan terus menebar manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment