Hits: 40

Erna Berliana

Pijar, Medan. Dijuluki sebagai Tarzan Kalimantan, sosok Andrew Kalaweit beberapa waktu lalu tengah mendapat banyak sorotan dari berbagai media sosial. Andrew Ananda Brule atau yang kerap dipanggil Andrew Kalaweit merupakan seorang pemuda blasteran Prancis-Indonesia yang lahir di Borneo pada tahun 2004.

Keluarga Andrew Kalaweit merupakan aktivis lingkungan yang tinggal di tengah hutan Kalimantan. Keluarga ini menetapkan pilihannya untuk tinggal di hutan tanpa adanya penduduk lain di sekitar mereka. Selain itu, ayah Andrew Kalaweit, Aurelien Francis Brule atau lebih akrab disapa Chanee Kalaweit, telah resmi menjadi WNI dan saat ini menjadi aktivis lingkungan serta pendiri yayasan Kalaweit yang berjasa bagi Indonesia.

Memilih tinggal di tengah hutan tidak membuat Andrew Kalaweit dan keluarga merasa terganggu atau terancam dengan segala jenis satwa yang berada di hutan tempat mereka tinggal. Justru Andrew Kalaweit merasa senang bisa mengikuti jejak sang ayah sebagai aktivis lingkungan dan menetapkan pilihan untuk terus terlibat dalam pelestarian satwa liar.

Ketertarikan Andrew Kalaweit pada satwa liar terlihat dari berbagai konten YouTube yang kerap kali memperlihatkan bagaimana keadaan lingkungan yang sedang dijelajahinya. Andrew Kalaweit juga pernah membuat konten untuk menjelajah di tengah hutan selama 24 jam.

Dikutip dari podcastnya bersama Deddy Corbuzier, saat melakukan konten yang berjudul “24 Jam di Hutan” sempat muncul pertanyaan dari Deddy Corbuzier tentang apakah Andrew Kalaweit tidak takut? Lalu, dengan sangat lugas ia menjawab, “kalau binatang buas ga takut, sih”.

Andrew Kalaweit sendiri berpendapat bahwa ada saat di mana satwa liar juga akan takut jika bertemu dengan manusia. “Coba di hutan, apa yang makan macan? Ga ada. Satu satunya yang bisa bunuh macan, manusia,” ujar Andrew.

Tinggal di tengah hutan tidak membuat Andrew Kalaweit dan juga saudaranya terhambat untuk sekolah. Mereka memilih untuk bersekolah dengan mobile homeschooling walaupun hanya mengandalkan panel surya sebagai sumber listrik dan juga memasang antena untuk mendapatkan sinyal. Dengan kondisi tersebut juga kerap kali membuat Andrew Kalaweit harus berusaha menggunakan keterbatasan sumber daya yang ada dengan sebaik mungkin agar tetap bisa membagikan aktivitasnya di tengah hutan melalui kanal YouTube miliknya yang saat ini sudah mencapai 1,7 juta subscribe.

Tidak hanya memenuhi fasilitas belajar Andrew Kalaweit dan adiknya yang bernama Enzo, ayah dan ibu mereka juga telah mempersiapkan segala kebutuhan sehari-hari mereka. Mulai dari memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami berbagai jenis tanaman hidroponik hingga menyediakan persediaan air untuk satu bulan dengan menggunakan tangki air yang besar.

Saat ini, Andrew Kalaweit memilih untuk gap year dan berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan di tahun depan. Fokus utama yang ingin dicapainya adalah untuk melanjutkan pekerjaan yang saat ini sangat disenangi, bahkan Andrew Kalaweit juga berharap bahwa suatu saat ia akan memiliki satu acara TV untuk mengedukasi masyarakat agar peduli kepada satwa-satwa liar.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment