Hits: 79
Luan Nayoka Purba / Rifki Partogi Situmorang
Pijar, Medan. Pernahkah kamu melihat temanmu atau seseorang yang berada di sekitarmu merasa dirinya paling hebat, sempurna, selalu ingin dipuji bagai bintang, padahal kenyataannya biasa saja? Hati-hati, mungkin dia mengalami fenomena gejala Star Syndrome.
Star Syndrome menggambarkan kondisi seseorang yang merasa dirinya sempurna, merasa bintang, dan pantas untuk dikagumi meski kenyataannya tidak mendukung. Dilansir dari hellosehat.com, kondisi ini juga sering dikaitkan dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Gejala Star Syndrome ini timbul akibat faktor-faktor lingkungan dan psikologis, salah satunya adalah validasi dari orang lain yang berlebihan. Ketika seseorang terlalu sering menerima pujian atau sanjungan tanpa ada kritik yang diterima. Hal ini membuat seseorang tersebut secara tidak sadar merasa dirinya selalu benar, dan lebih hebat dari yang lain.
Kepribadian bawaan juga sangat memengaruhi timbulnya kondisi Star Syndrome ini. Sikap narsistik yang tinggi pada seseorang membuat dirinya merasa lebih istimewa dibandingkan orang lain, dan sulit memiliki sifat empati.
Ciri-ciri yang dimiliki oleh seseorang dengan kondisi Star Syndrome ini adalah rasa superior yang berlebihan, membutuhkan pujian dan kekaguman yang konstan, merasa sangat berhak untuk apapun, mengeksploitasi atau merendahkan orang lain, seolah-olah bagai bintang yang berada di atas orang lain.
Dampak bagi seseorang yang memiliki Star Syndrome ini sangat berbahaya, seperti masalah atau kesulitan dalam hubungan sosial, sering mengalami rasa cemas atau depresi berlebihan akibat suatu hal yang tidak sesuai harapan, mementingkan diri sendiri secara berlebihan, selalu mengharapkan pengakuan dari orang lain karena merasa berhak mendapatkan pengakuan, dan melebih-lebihkan prestasi dan bakat diri sendiri.
Gejala Star Syndrome juga sering muncul bersamaan dengan gangguan mental lain seperti stres, depresi, bipolar, atau penyalahgunaan alkohol dan zat berbahaya. Ketika ciri-ciri gejala ini sudah terdapat pada seseorang, sebaiknya langsung dilakukan penanganan dan dibawa ke konseling psikologi sebelum berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.
Seseorang yang mengalami sindrom ini cenderung defensif, sehingga sulit untuk mengakui masalah yang dialaminya. Untuk itu, melibatkan psikolog adalah cara paling utama untuk menangani kondisi tersebut. Selain itu, dukungan keluarga untuk menyadarkan tentang kondisi yang dialaminya juga penting.
Kondisi Star Syndrome bukan sekadar sikap sombong atau haus pujian, melainkan kondisi psikologis yang merusak hubungan sosial, dan kesehatan mental seseorang. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa popularitas dan pujian bukan nilai utama diri, tetapi bagaimana kita mampu menerima kritik agar tidak terjebak dalam ilusi menjadi “bintang”.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

