Pintu ruangan itu sudah terbuka lebar. Sebuah pertanda bahwa kegiatan di dalamnya telah usai. Semua orang keluar satu per satu dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang ceria karena saatnya pulang, ada yang lesu karena lelah, dan ada yang semakin lusuh karena ada target yang harus dicapai dua minggu ke depan.
Melihatmu adalah hal paling pecundang dalam hidupku
Di depanmu prosaku hanyalah malu
Di depanmu aku mati terpaku, “kaku”
