Hits: 13

Adinda Amelia Putri Br. Tarigan

Pijar, Medan. Tahukah kamu bahwa Serabi merupakan makanan khas tradisional yang katanya sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara? Serabi atau sering juga disebut dengan “Surabi” biasanya sering dijadikan sebagai camilan yang cocok dinikmati kapan saja, baik pagi hari sebagai menu sarapan, maupun sore hari sebagai menu pendamping minum teh.

Nama Serabi sendiri diambil dari bahasa Jawa, yaitu “sre” yang artinya menggoreng, dan “abi” berarti tepung beras. Jika digabungkan, maka nama Serabi dapat diartikan sebagai makanan yang dimasak dan digoreng, serta berasal dari tepung beras.

Dilansir dari detik.com, kue tradisional ini konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Makanan ini juga beberapa kali disebut dalam Serat Centhini, yang ditulis para pujangga Keraton Surakarta pada tahun 1814 hingga tahun 1823 atas perintah Pakubuwana V. Masyarakat kerap menjadikan Serabi sebagai makanan untuk persembahan kepada dewa-dewa dalam ritual keagamaan atau upacara adat.

Proses pembuatan Serabi yang tidak rumit mencerminkan kehidupan masyarakat agraris yang sederhana, di mana beras sebagai bahan utama diolah menjadi berbagai jenis makanan, salah satunya Serabi. Bentuk Serabi yang bundar dipercayai melambangkan kesempurnaan dan kelimpahan, mirip seperti bentuk bulan purnama.

Mengutip dari unggahan blog food culinary journey, tepung beras yang menjadi bahan dasar pembuatan Serabi biasanya hasil dari gilingan tangan beras lokal, yang kemudian dicampur dengan santan dari kelapa. Proses pembuatan untuk membentuk adonan Serabi umumnya menggunakan cetakan dari tanah liat, yang dipanggang di atas tungku berbahan bakar kayu atau arang. Tekstur unik Serabi yang sedikit renyah di bagian pinggir, dan lembut kenyal di tengah adalah hasil dari proses memasak yang sedikit lama dengan menggunakan api kecil.

Di Indonesia, olahan Serabi terbagi menjadi dua jenis utama berdasarkan cita rasanya, yaitu Serabi asin dan Serabi manis. Keduanya memiliki bahan dasar yang sama, yaitu tepung beras dan santan. Namun, yang menjadi pembeda di antara kedua jenis ini terletak pada topping, serta saus pelengkap yang memberikan cita rasa yang berbeda.

Serabi manis merupakan jenis Serabi yang paling banyak digemari dan mudah untuk ditemukan di berbagai daerah. Ciri khasnya terletak pada saus berbahan dasar gula merah, yang dimasak bersama santan dan menghasilkan tekstur yang mengental dan beraroma wangi. Saus ini disebut dengan “kinca”, yang biasanya dituangkan di atas Serabi selagi hangat, sehingga menyatu dengan bagian lembut di tengah serabi tersebut. Jenis Serabi ini banyak ditemui di daerah Jawa Tengah, seperti Serabi Solo yang cukup banyak dikenal.

Di sisi lain, jenis Serabi asin memiliki cita rasa yang cukup unik dengan mengedepankan rasa gurih dari topping atau bahan yang digunakan. Topping yang digunakan biasanya seperti taburan kelapa parut, oncom, abon, telur, ataupun sayuran yang memberikan rasa gurih pada Serabi.

Tekstur Serabi asin tetap sama dengan Serabi manis, yaitu berbentuk renyah dan kering di bagian pinggir, tetapi tetap lembut di bagian tengahnya. Jenis Serabi ini banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, seperti yang populer yaitu Serabi Bandung.

Seiring berjalannya waktu, kini Serabi berkembang menjadi makanan yang mudah ditemui di setiap daerah di Indonesia. Di daerah yang berbeda, Serabi dihidangkan dengan topping yang cukup bervariatif dan memiliki cita rasa yang unik. Tampilan yang semakin modern tidak membuat resep dasar Serabi banyak berubah dan tetap sederhana.

Selain lezat, kue tradisional satu ini juga memiliki nilai budaya. Serabi menjadi penanda kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang menggambarkan kehidupan masyarakat Nusantara sejak dahulu. Serabi juga mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam mengelola bahan pangan sederhana menjadi hidangan lezat. Bahkan, kini Serabi tidak hanya sekadar dinikmati sebagai jajanan pasar, tetapi telah menjadi kuliner unggulan yang mampu menarik wisatawan untuk mencicip rasa autentik Nusantara.

Dengan sejarah serta keberagamannya yang kaya, Serabi tetap menjadi salah satu bukti betapa kuliner tradisional Indonesia tetap memiliki daya tarik yang kuat, dan mampu bertahan melalui lintas generasi. Serabi hingga kini tetap menjadi kue tradisonal yang masih terus digemari oleh sejumlah masyarakat di Indonesia maupun dunia.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment