Hits: 20

Kiki Nabila Tusu

Pijar, Medan. Pernahkah kamu menonton sebuah film yang mampu mengangkat isu sosial tentang seorang ibu? Pangku adalah sebuah film yang disutradarai oleh Reza Rahadian, seorang aktor terkenal dengan kemampuan akting yang mampu menyentuh emosional penonton. Mengangkat isu sosial, Pangku dikemas dalam cerita ringan yang memperlihatkan bahwa kerasnya hidup dan krisis ekonomi, dapat menjadi faktor utama seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

Perdana tayang di bioskop pada 6 November 2025, film ini berhasil mencuri banyak perhatian masyarakat. Lewat isu sosial yang diangkat, Pangku mengemas perjuangan seorang ibu dengan penuh haru dan membantu menggiring opini masyarakat untuk keluar dari stigma sosial.

Tokoh utama yang bernama Sartika dengan diperankan oleh Claresta Taufan, hidup sebagai seorang wanita hamil yang harus memilih jalan hidup dengan pergi meninggalkan tempat asalnya. Harapan baru mulai dibangun, meski akhirnya harus menumpang disebuah rumah milik Bu Maya. Selain menumpang, ia juga mendapatkan tawaran untuk menjaga sebuah warung kopi milik Bu Maya sembari mencari pekerjaan tetap. Namun, tawaran tersebut memiliki makna terselubung di baliknya.

Tawaran tersebut membuat Sartika diharuskan melayani pelanggan bukan hanya dengan menyediakan pesanan. Namun, turut melayani pelanggan secara fisik. Artinya, Sartika harus melakukan adegan “pangku”, yaitu dengan memberi pesanan pelanggan dan duduk di pangkuannya sebagai bentuk rayuan agar pelanggan merasa nyaman.

Setelah menerima pekerjaan tersebut akibat tuntutan ekonomi, konflik sosial mulai muncul secara perlahan. Mulai dari persoalan Bayu, sang anak yang sulit mendaftar sekolah karena status sosial dan data yang tidak lengkap, hingga kehadiran Hadi sebagai sosok penyelamat sementara dalam hidup Sartika. Di satu sisi, adegan “pangku” menempatkan perempuan pada posisi yang miris. Hal ini dinilai melalui kontak fisik yang seolah-olah dijual agar dagangan menjadi laris manis.

Kesulitan yang dialami Sartika dan Bayu menunjukkan bahwa tidak hanya ekonomi, tetapi status sosial juga sangat dipandang dalam hal ini. Pangku menggambarkan Sartika sebagai sosok ibu tunggal yang mampu memperlihatkan perjuangannya membesarkan Bayu.

Film berdurasi 104 menit ini digambarkan dengan visual yang sangat mendukung, detail kecil seperti latar (setting) tempat dan riasan memperlihatkan bahwa kehidupan Sartika benar-benar sulit. Sentuhan musik “Rayuan Perempuan Gila” karya Nadin Amizah, turut serta menunjukkan bahwa seorang perempuan seperti Sartika berhak mendapatkan cinta di tengah keraguan yang ada. Musik ini mengantarkan rasa emosional penonton yang tersampaikan lewat perpaduan makna musik, yaitu cara Sartika yang mencintai Hadi dengan kegilaannya.

Film ini juga menunjukkan tentang kadang kala krisis ekonomi, sering kali menjadi alasan satu-satunya untuk melakukan pekerjaan apa pun. Pangku menggambarkan perjuangan seorang ibu yang mampu melewati kerasnya hidup meski berkali-kali dihadapkan dengan rasa sakit. Lewat Pangku, kita dapat memahami bahwa kasih sayang ibu sepanjang masa. Mengartikan bahwa ibu tidak akan menyerah dan tetap berjuang, serta selalu menjadi yang pertama memeluk kita saat dunia tidak baik-baik saja.

Ditutup dengan sentuhan musik “Ibu” karya Iwan Fals, film Pangku berhasil mengundang penonton untuk meneteskan air mata. Berdasarkan film ini kita dapat belajar, bahwa ibu akan melakukan apa saja untuk masa depan anaknya. Sekalipun mengorbankan harga dirinya tanpa sisa. Jadi, kapan kamu ingin menyaksikan sendiri perjuangan ibu lewat film Pangku?

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment