Hits: 27
Shefira Riani Manany
Pijar, Medan. Wayang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Tidak hanya menjadi pertunjukan seni, wayang berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter, refleksi moral, dan media komunikasi sosial yang menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Pada tahun 2003, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan wayang Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, yaitu pengakuan dunia atas kekayaan budaya sebuah bangsa.
Dalam memperingati hal tersebut, pemerintah menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018. Sejak itu, peringatan Hari Wayang Nasional menjadi momentum tahunan untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat terhadap pelestarian seni tradisi.
Pada tahun 2025, masyarakat Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional ke-7 tahun sejak ditetapkan oleh pemerintah.
Mengusung semangat “Menjaga Nilai Luhur, Menguatkan Identitas Bangsa di Era Digital”, perayaan tahun ini menyoroti pentingnya keterlibatan Generasi Z dalam menjaga keberlanjutan seni pewayangan.
Sumari, Ketua III Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) sekaligus Pamong Budaya Ahli Madya di Kementerian Kebudayaan, menyampaikan bahwa peringatan ini bukan hanya agenda seremonial, tetapi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memastikan warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Hari Wayang Nasional mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni pewayangan yang luar biasa, mulai dari Jawa, Bali, Sumatra, hingga Nusa Tenggara. Masing-masing memiliki filosofi dan nilai kearifan lokal yang perlu dijaga,” ujarnya.
Senawangi sebagai lembaga koordinator nasional pewayangan, berperan aktif dalam penyelenggaraan rangkaian acara Hari Wayang Nasional yang berlangsung 7–8 November 2025 di Jakarta. Kegiatan tersebut meliputi Forum Warisan Budaya Tak Benda Hidup bagi Wayang di Indonesia ke-5, Teater Wayang Indonesia, dan Forum Komunikasi Interaktif Budaya yang mengangkat peran generasi muda dalam melestarikan wayang.
Selain itu, digelar juga Karnaval Wayang Nasional yang diikuti berbagai komunitas seni dari seluruh daerah. Tidak hanya menampilkan atraksi dari dalang lokal, acara ini juga menghadirkan pertunjukan kolaboratif dari luar negeri, dengan memperlihatkan bahwa wayang Indonesia telah menjadi diplomasi budaya di tingkat global.
Sumari menambahkan, tantangan terbesar dalam menjaga eksistensi wayang terletak pada perubahan pola konsumsi hiburan generasi muda.
“Generasi Z menjadi fokus utama. Tantangannya adalah bagaimana mengemas wayang agar tetap padat, menarik, dan bisa dinikmati di platform digital,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan nilai tradisi. Untuk menjawab tantangan itu, Senawangi terus mendorong inovasi dan adaptasi terhadap teknologi. Saat ini, sejumlah dalang muda telah memanfaatkan media sosial dan siara langsung (live streaming) untuk menampilkan pagelaran wayang secara dalam jaringan (daring). Langkah ini menjadi salah satu cara mengenalkan tradisi kepada generasi muda dan memperluas jangkauan penonton.
“Kami melakukan berbagai cara untuk memperkenalkan wayang ke semua kalangan, seperti membuka ruang bagi seniman dan komunitas untuk berkreasi. Contohnya, pertunjukan kontemporer Swargaloka yang memadukan musik pentatonik dan multimedia,” tambahnya.
Dalam memperingati Hari Wayang Nasional tahun ini, Senawangi berharap generasi muda tidak hanya mengenal wayang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang menanamkan nilai kebijaksanaan, toleransi, dan kemanusiaan dalam kehidupan modern.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

