Fotografer: Muhammad Farhan

Cerita Getir Anak-anak Badut Jalanan

Muhammad Farhan / Rassya Priyandira

Pijar, Medan. Terik matahari maupun guyuran hujan tak menghalangi salah seorang anak yang bekerja sebagai badut jalanan di Kota Medan untuk menari dan berjoget di pinggir jalan. Sebut saja Ilham (bukan nama yang sebenarnya). Bocah berusia 12 tahun ini merupakan anak dari seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Ia telah menjadi badut jalanan semenjak ditinggal ibunya pergi ke negeri tetangga sekitar awal tahun 2020. Ilham yang awalnya dititipkan sang ibu kepada neneknya, malah diajak bekerja oleh seorang ibu yang juga merupakan tetangganya, sebut saja Irna.

Saat ditanya tim investigasi Pijar bagaimana ia bisa menjadi badut, Ilham pun menjawab “Pertama aku main-main sama kawan aku itu di simpang dekat rumah ku bang. Terus mamaknya nanya, ‘Mau kau jadi badut? Daripada main-main bagus cari duit’, kata mamaknya gitu bang.”

Tanpa pertanyaan, dengan polos Ilham pun menyetujui ajakan Irna untuk menjadi badut jalanan. Usai pertemuan mereka tersebut, keesokan harinya adalah awal mula cerita bagi Ilham sebagai salah satu badut jalanan di Kota Medan.

Saat ditemui oleh tim investigasi Pijar di salah satu persimpangan jalan Kota Medan, raut wajah Ilham yang letih dan terlihat kehausan tertutupi dengan sikapnya yang riang. Sembari membuka kostum badutnya, terlihat jelas baju Ilham yang lusuh dan basah penuh keringat. Bahkan rambutnya pun terlihat seperti sehabis mandi, akibat cucuran keringat saat menggunakan kostum badut.

Sejak pagi Ilham sudah berangkat menggunakan angkutan kota (Angkot) bersama teman-teman dan Irna menuju salah satu persimpangan jalan tempat mereka biasa ‘main badut’ (istilah umum yang digunakan mereka untuk mendeskripsikan kegiatannya). Ilham dan teman-temannya bermain badut sedari jam 10 pagi hingga jam 8 malam. Oleh karena itu, mungkin saja Ilham dan teman-temannya ketinggalan pelajaran atau bahkan bolos sekolah, terlebih lagi di masa pandemi ini hampir seluruh sekolah di Kota Medan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring.

Walaupun bekerja seharian, penghasilan Ilham menjadi badut itu pun tidak bisa ia nikmati sepenuhnya untuk membeli keperluan ataupun sekedar jajan. Ia terlebih dahulu harus membayar sejumlah uang kepada Irna, yang katanya merupakan setoran uang sewa kostum badutnya. “Sehari aku bisa dapat 100 ribu bang biasanya. Pernah juga dapat 200 ribu, tapi paling sikit juga pernah 50 ribu bang, habis itu potong sewa baju sama speaker baju 70 ribu bang sehari,” jelas Ilham.

Tak jarang Ilham juga harus berhutang setoran uang sewa kostum badutnya kepada Irna. Di mana hutang tersebut akan dibayarkan keesokan harinya, ketika penghasilan yang ia dapatkan terbilang cukup.

Investigasi: Irna, Salah Satu Sosok di Balik Badut Jalanan.

Tim investigasi Pijar juga berkesempatan mewawancarai Irna yang terlihat sedang duduk santai di sebuah warung di pinggir persimpangan jalan. Saat tim investigasi Pijar bertanya ada berapa badut yang beraksi di sekitar persimpangan jalan tersebut, Irma pun menjawab, “Kalau aku, ada 5 badut sama ku. 4 itu anak tetangga sama 1 anak ku sendiri.”

Irna juga mengatakan bahwa anak-anak tersebut telah ia tentukan shift-nya untuk ‘main badut’, setiap sekitar satu jam sekali anak-anak yang dibawa oleh Irna tersebut silih berganti main badut. Irna dan anak-anak yang dibawanya juga terlihat tidak menerapkan protokol kesehatan, walau saat ini sedang masa pandemi. Bahkan, masker scuba yang dikenakan oleh mereka juga terlihat sudah berkerut juga terdapat sobekan-sobekan kecil.

Tim investigasi Pijar juga bertanya mengenai uang setoran kostum badut yang sebelumnya disampaikan oleh Ilham. Irna menjawab bahwa setiap badut wajib menyetorkan sejumlah uang yang kemudian akan ia bayarkan kepada si pemilik kostum. Nominal yang disetorkan oleh Irna juga berbeda, tergantung kostum yang digunakan. Kisaran harga dapat sekitar 50-80 ribu rupiah/ kostum atau per-anak.

Irma juga menambahkan, “Kostum badutnya kan sewa bang, jadi harus bayarlah anak-anak ini. Kecuali anakku bang, soalnya kan dia main sendiri.”

Pernyataan dari Irna tersebut menarik perhatian kami. Saat tim investigasi Pijar bertanya maksud anaknya yang ‘main sendiri’, Irna terlihat kebingungan dan menjawab bahwa uang sewa kostum anaknya merupakan pengecualian yang mana dibayarkan oleh dirinya.

Tidak hanya itu, para tim mendapatkan jawaban yang mengejutkan perihal pertanyaan mengenai ‘apa sebab Irna mengajak anak-anak tersebut bermain badut?’ “Anak-anak ini kan bagusan cari uang bang, daripada main-main aja di rumah. Apalagi karena lagi Covid ini sekolah kan libur bang,” jawabnya.

Padahal, meliburkan sekolah bukan berarti siswa/siswi berhenti belajar. Namun lebih tepatnya disarankan untuk belajar di rumah saja. Keputusan meliburkan sekolah yang diambil pihak sekolah juga merupakan tindakan dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Jika siswa/siswi yang diliburkan pada dasarnya diharapkan untuk di rumah saja, namun malah bekerja ataupun melakukan banyak aktivitas di luar rumah, tindakan meliburkan sekolah sama saja sia-sia. Padahal, meliburkan siswa/siswi merupakan salah satu upaya untuk menghindari mereka dari virus Covid-19.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *