Hits: 24

Shafna Jonanda Soefit Pane

Pijar, Medan. Pergeseran pola konsumsi hiburan masyarakat dalam hal menonton, terlihat jelas dalam dua tahun terakhir. Film drama dengan bentuk vertikal berdurasi singkat, kini mendominasi hampir seluruh platform hiburan. Meningkatnya penggemar drama jenis ini membuat para produsen film juga ikut mengubah strategi dan bentuk produksi mereka, mengikuti perkembangan dan kegemaran para penontonnya. Drama pendek ini dikenal juga dengan sebutan drama mikro atau drama mini.

Dilansir dari kompas.id, istilah drama mikro ini pertama dicetuskan oleh Jeffrey Katzenberg, seorang pengusaha teknologi asal Amerika Serikat, dengan nama awal drama vertikal. Mulanya, pada tahun 2020, Katzenberg mengatakan bahwa saat ini, perkembangan teknologi sudah sampai pada masa di mana segala bentuk tontonan serba kecil dan pendek. Oleh karena itu, ia meluncurkan sebuah aplikasi siaran (streaming) video dengan nama Quibi. Namun, aplikasi ini tidak bertahan lama dan cenderung diabaikan pada mulanya oleh masyarakat.

Tidak disangka, dalam beberapa tahun terakhir, drama mikro meledak di kalangan masyarakat. Banyak yang mulai menggemari jenis drama ini sebab alur (plot) awalnya yang memikat. Meski jalan ceritanya sangat biasa (mainstream), pengemasannya yang praktis dengan segala alur cerita tidak terduga (plot twist), membuat para penonton tertarik untuk menontonnya secara terus-menerus.

Safitri, sebagai penikmat drama mikro, menjelaskan bahwa ia lebih tertarik dengan drama jenis ini sebab durasinya yang singkat, sehingga tidak perlu menunggu untuk mengetahui akhir dari ceritanya. Alurnya yang jelas dan tidak bertele-tele juga menjadi daya tarik tersendiri. Meski begitu, terkadang akhir (ending) dari drama ini tetap tidak tertebak, sehingga penonton tetap setia menyaksikannya hingga akhir.

“Saya lebih suka nonton (drama mikro) ini karena dramanya pendek, jadi bisa cepat selesainya. Kadang saya tonton sekalian menunggu lanjutan dari drama-drama lain yang lagi saya tonton. Alur ceritanya juga kadang susah ditebak bagaimana akhirnya. Jadi, ya memang harus ditonton sampai selesai,” ungkap Safitri.

Keberadaan drama vertikal ini dinilai sebagai suatu kemajuan sebab dapat membuka peluang baru bagi industri perfilman dengan mengikuti perkembangan digital. Adanya pergeseran ini juga dapat menjangkau audiens dengan lebih luas dan dapat disebarkan melalui platform yang berbeda-beda. Fenomena ini juga merupakan inovasi bagi industri perfilman agar semakin maju dan berkembang sesuai dengan minat para penonton.

Namun, hal ini juga dapat dinilai sebagai kemunduran, sebab menonton video dengan durasi pendek memiliki efek bahaya tersendiri. Dikutip dari detik.com, hasil dari sebuah studi yang terbit di Frontiers pada 27 Juni 2024, mengungkap bahwa orang yang cenderung sering menonton video pendek akan mudah terganggu perhatian dan pengendalian dirinya.

Selain itu, terdapat pula kesenjangan nyata dampak buruk dari menonton video pendek tersebut terhadap fungsi kognitif otak. Hal ini juga berdampak buruk sebab seseorang jadi mudah merasa bosan jika terlibat dalam aktivitas yang tidak instan dan tidak memuaskan.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, viralnya drama vertikal dengan durasi singkat ini menjadi adiksi baru bagi para penikmat drama, termasuk Generasi Milenial hingga Generasi Z sekalipun. Apakah kamu termasuk salah satu dari penonton drama mikro ini?

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment