Hits: 42
Ferdi Rakiven Sianturi
Pijar, Medan. Hari Sumpah Pemuda merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia yang diperingati pada setiap tanggal 28 Oktober. Pada tahun ini, Hari Sumpah Pemuda telah menempuh umur ke-97 tahun, bertujuan sebagai momen pengingat kepada generasi muda Indonesia saat ini tentang perjuangan para pemuda Indonesia di masa penjajahan yang telah menebarkan semangat dalam jiwa patriotisme.
Semangat kelompok pemuda Indonesia pada masa dahulu telah berhasil menyatukan visi dan melahirkan komitmen kebangsaan, yaitu bersatu dalam satu bangsa, tanah air, dan bahasa yang sama.
Junaidi, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), mengungkapkan bahwa pada saat ini peringatan Sumpah Pemuda telah perlahan kehilangan maknanya, terutama di kalangan generasi muda.
Ia juga menjelaskan bahwa, banyak anak muda saat ini terlihat tidak lagi “menyatu” dalam rasa kebangsaan. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, yaitu pengaruh globalisasi yang menimbulkan krisis identitas, ketidakpercayaan terhadap pemerintah yang memicu protes dan ketidakpuasan, sikap individualisme yang menguat, serta paparan media sosial yang tanpa batas.
Selain itu, di tengah hiruk-pikuk era digital yang serba cepat, momen peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar seremonial tahunan yang berlalu begitu saja. Menurut Junaidi, peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dapat menjadi sebuah refleksi diri, inspirasi, serta pengingat bagi generasi muda dalam merajut persatuan dan kesatuan bangsa yang perlahan mulai memudar.
Ia juga menyatakan bahwa generasi muda seharusnya mempunyai peran sebagai agen perubahan. Agen perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga toleransi, menghindari ujaran kebencian yang kini marak di media sosial, hingga melestarikan budaya lokal dengan cara-cara kreatif dan inovatif.
“Generasi muda saat ini harus mengambil peran sebagai agen perubahan dan persatuan, dengan cara menjaga toleransi, menghindari ujaran kebencian, melestarikan budaya lokal dengan mengkreasikan budaya Indonesia di media sosial, bangga menggunakan produk-produk buatan anak bangsa, serta mengukir prestasi yang mengharumkan nama bangsa,” ucapnya.
Junaidi juga menambahkan bahwa dalam menghadapi perkembangan teknologi, terutama di era ketika dunia bagaikan sebuah desa kecil (global village), menunjukkan batas-batas geografis yang seolah menghilang bagi anak muda yang perlu memadukan rasa nasionalisme dengan literasi global yang tinggi. Menurutnya, hal ini dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk menghargai warisan budaya tanpa menutup diri dari pengaruh luar.
“Menurut saya, jalan terbaik dalam menghadapi global village hari ini adalah bagaimana anak muda dapat memadukan rasa nasionalisme dengan meningkatkan literasi global. Pendekatan ini memungkinkan anak muda untuk menghargai warisan budaya sendiri, tetapi tetap terbuka terhadap pengaruh positif dari luar,” tambahnya.
Junaidi berharap, generasi muda memiliki peran strategis sebagai penerus bangsa yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara. Selain itu, dengan meneladani semangat juang para pemuda terdahulu, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk bermimpi besar serta tekad kuat untuk mewujudkannya melalui tindakan nyata. Sikap untuk terus belajar, berinovasi, dan berkarya menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini.
Sebagai penutup, ia mengungkapkan bahwa dengan adanya semangat optimisme dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa, generasi muda diharapkan mampu menjadi kekuatan utama dalam membangun Indonesia yang lebih maju, berdaya saing, dan berkarakter.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

