Hits: 37

Alya Amanda

“Seorang guru memengaruhi kekekalan; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti.” – Henry Books Adams

Pijar, Medan. Pembentukan generasi bangsa salah satunya dipegang oleh guru. Guru merupakan sosok penting yang berkontribusi dalam membentuk generasi menjadi lebih baik. Oleh karena itu, seorang guru layak diberikan apresiasi. Setiap tahun di Indonesia, apresiasi untuk guru diperingati pada tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional.

Namun, bentuk apresiasi ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, harinya para guru juga dibuat oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Salah satu badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mencetuskan Hari Guru Sedunia pada tanggal lima Oktober dan sudah diperingati sejak tahun 1994.

Dilansir dalam laman UNESCO, peringatan Hari Guru Sedunia 2023 mengusung tema “The Teachers We Need For The Education We Want: The Global Imperative To Reverse The Teacher Shortage”. Melalui tema tersebut, UNESCO mengupayakan dan mengingatkan pentingnya menghentikan penurunan jumlah guru dan meningkatkan jumlah tersebut sebagai agenda utama di seluruh dunia.

Menjadi seorang guru bukanlah perihal mengajar saja. Guru juga menggenggam tanggung jawab besar, terlebih lagi di era digitalisasi saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Emia Viviyana, salah satu guru di SD Negeri 105297 Kabupaten Deli Serdang.

“Semakin berkembangnya teknologi, semakin berkembang pula pemahaman yang harus dipahami. Apalagi perihal kurikulum, yang dulunya kita memakai kurikulum KTSP dan K13, lalu sekarang IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) maka terjadilah perubahan,” ujarnya.

Ia pun menuturkan bahwa zaman yang terus berubah, berdampak pada tuntutan yang semakin besar untuk para guru.

“Guru dituntut untuk lebih kreatif inovatif, guru dituntut untuk bisa mengembangkan bakat minat siswa-siswi. Apalagi sekarang di IKM ada yang namanya proyek atau P5. Nah, di sini para guru juga kewalahan. Artinya belum siap dengan perubahan yang ada,” sambungnya.

Emia yang kini berstatus sebagai guru honorer juga menanggapi perihal pendapatan guru yang tidak sebanding dengan segala tuntutan tersebut.

“Bagi saya, pendapatan guru tidak sebanyak dan sebanding dengan pekerjaannya. Apalagi bagi yang masih honorer. Di IKM akan lebih banyak lagi kegiatan yang harus dilaksanakan, sementara setiap kegiatan tidak mungkin tidak mengeluarkan dana,” jelasnya.

Terlepas dari hal tersebut, melalui Hari Guru Sedunia ini, Emia akan terus bersemangat demi mencerdaskan anak bangsa.

Hal tersebut juga dirasakan oleh seorang guru di SMK Yaspi Labuhan Deli, Dewi Apriyanti. Ia mengatakan bahwa peringatan ini membuatnya bangga menjadi guru.

“Peringatan seperti hari guru ini sangat berpengaruh pada semangat saya karena membuat saya terharu dan bangga menjadi guru,” ungkapnya.

 

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment