Hits: 498
Novita Arum
Judul : Gadis Kretek
Penulis : Ratih Kumala
Desain Cover dan Ilustrasi Isi : Iksaka Banu
Editor : Mirna Yulistianti
ISBN : 978-979-22-8141-5
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan pertama Maret 2012
Tebal : 274 Halaman
“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”
Demikian kalimat label peringatan itu kerap kita baca di setiap kemasan rokok dengan berbagai gambar yang cukup mengerikan atau iklan-iklan rokok namun hal yang unik kalau ternyata label peringatan itu tertera di sebuah novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Peringatan itu terdapat di halaman depan sebagai pembuka novel. Mengapa? Apakah dengan membaca novel ini maka kita akan ketagihan untuk merokok?
Tulisan ini harus disematkan para produsen rokok pada rokok produksi mereka. Ratih merasa berkewajiban mengutip dan menaruhnya pada bagian awal novel. Keputusan yang tepat mengingat Ratih mengisahkan dunia rokok Indonesia, perkembangan, dan kelezatan cita rasanya. Selain itu, dalam novel kita akan menemukan anak remaja yang diajak ayahnya merokok dan perempuan yang punya kebiasaan merokok.
Rokok selalu menimbulkan kontroversi. Ditentang dengan alasan merusak kesehatan. Direstui karena merupakan sumber mata pencaharian.
Novel dengan cover sangat menarik sekaligus provokatif berupa ilustrasi etiket rokok bergambar seorang gadis berkebaya yang sedang memegang rokok ini memang kaya dengan wangi tembakau, bukan karena kertasnya beraroma tembakau namun karena kisahnya berlatar belakang keluarga pengusaha pabrik rokok kretek.
Kisah Gadis Kretek dimulai saat Soeraja, pemilik pabrik kretek Djagad Raja, kretek nomor satu di Indonesia yang sedang sekarat. Dalam menanti ajalnya, ia menggigaukan sebuah nama wanita “Jeng Yah” nama wanita yang bukan istrinya di depan istrinya dan di depan tiga orang anaknya yang telah dewasa. Nama itu tiba-tiba membangunkan masa lalu yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh Soeraja dan istrinya, hal ini tentu saja membuat penasaran tiga orang anaknya yang telah mengetahui nama wanita itu. Mereka penasaran siapa Jeng Yah yang selalu disebut ayahnya hampir di setiap saat itu.
Dengan rasa penasaran itu mengantarkan Tegar, Karim, dan Lebas, tiga putra Seoraja sekaligus pewaris kerajaan Kretek Djagad Raja untuk berusaha mencari tahu siapa Jeng Yah yang diigaukan oleh ayah mereka. Ketika ditanya langsung ke ayah mereka diketahui bahwa ayah mereka ingin bertemu dengan Jeng Yah. Mereka segera berangkat pergi ke Kudus berlomba dengan malikat maut untuk mencari Jeng Yah sebelum ajal menjemput sang ayah yang telah mengalami masa kritis.
Pencarian ini akhirnya membuat mereka menyelusuri sejarah Kretek Djagad Raja, perjuangan sang ayah mendirikan kerajaaan kreteknya dan kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, si Gadis Kretek yang yang menemukan ramuan istimewa rokok kretek dari sari cengkeh yang menempel di tangannya dan ludah manisnya saat ia melinting rokok khusus untuk ayahnya.
Tak hanya itu, dalam novel ini juga dikisahkan bagaimana ketatnya persaingan antara Idroes Moeria, ayah Jeng Yah dengan Soejagad yang merupakan kakek mereka, teman masa kecilnya yang bermula dari persaingan memperebutkan seorang gadis yang berlanjut ke persaingan bisnis kretek dengan trik yang tak terduga.
Persaingan antara Seodjagad dengan Idroes Moeria terus berlangsung, namun usaha Idroes Moeria dengan merek dagang Kretek Gadis tetap berjaya apalagi setelah Jeng Yah dan Soeraja ikut mengelola pabrik Kretek Gadis tersebut. Kedekatan Jeng Yah dengan Soeraja dalam mengelola Kretek Gadis menumbuhkan cinta diantara mereka sayangnya ketika mereka hendak menikah, peristiwa G30S memporak-porandakan cita-cita mereka.
Seperti diungkapkan di awal, buku ini sarat dengan aroma tembakau. Dari awal hingga akhir cita rasa tembakau, cengkeh, rokok kretek menghiasi novel ini. Dengan lancar penulis mengurai segala sesuatu tentang kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan/kolobot lalu diisi tembakau plus cengkeh, klobot klembak menyan, hingga akhirnya menggunakan papier (kertas pembungkus campuran tembakau).
Dengan fasih, penulis juga mengisahkan tahap-tahap pembuatan rokok kretek secara manual dari masa ke masa, mulai dari penggunaan tembakau dan cengkeh hingga akhirnya ditambah dengan saus (tobacco flavor) yang menjadikan rokok kretek semakin beraroma dan nikmat. Di novel ini juga kita akan mengetahui kalau dahulu kala rokok kretek juga dijual di toko obat karena cengkeh yang terkandung dalam rokok dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma.
Selain tentang kretek yang melatari kisah cinta Gadis Kretek dan persaingan antar pengusaha kretek, novel ini juga dilatari oleh peristiwa paska G30S. Saat dimana partai komunis dan semua yang tersangkut di dalamnya ditangkap, ditembaki, dan dibuang ke sebuah sungai.
Lewat Soeraja kita melihat bagaimana Soeraja yang buta politik akhirnya menjadi korban keganasan penduduk dan aparat yang marah terhadap PKI. Saat Soeraja membutuhkan modal untuk mendirikan pabrik kretek ternyata Partai Komunis di kotanya bersedia memberikan modalnya. Naluri bisnisnya menggerakkannya untuk membuat kretek cap Arit Merah dengan pemikiran rokok itu akan banyak diminati orang khususnya pendukung Partai Komunis yang saat itu merupakan partai besar dan resmi yang tentunya memiliki massa yang sangat banyak.
Soeraja tidak berpolitik ia hanya menjalankan bisnisnya, namun ia tak luput dari kejaran aparat dan warga yang menuduhnya antek komunis untungnya ia dapat melarikan diri. Tak hanya dirinya, Idroes moria dan si Gadis Kretek ikut ditangkap dengan alasan pernah mempekerjakan Soeraja. Dan yang lucu, salah satu alasan ditangkapnya Idroes Moeria adalah karena rokok Kretek Merdeka produksinya menggunakan kertas papier berwarna merah,warna PKI. Padahal Idroes membuatnya jauh sebelum peristiwa G30S dan warna merah ia pakai untuk mengingatkan perokoknya akan bendera merah putih.
Yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana penulis menggabungkan berbagai latar dan kisah seperti sejarah kretek, kisah cinta, persaingan bisnis, pertarungan harga diri, ditambah dengan sisi budaya dan historis yang melatarinya dengan porsi yang tepat dalam rangkaian kalimat yang sederhana sehingga semua unsur tersebut menyatu menjadi sebuah rangkaian kisah yang membuat kita penasaran untuk terus membacanya hingga akhir dan juga kecanduan untuk membacanya lagi.
Novel ini bukan hanya soal kasih tak sampai, kuatnya cinta, cemburu buta, kejamnya bisnis, dan soal harga diri yang terungkap lewat kisah dan karakter tokoh-tokohnya, melainkan sebuah novel yang dalam kapasitasnya berusaha merekam sejarah perkembangan rokok kretek lengkap dengan sisi historis dan budayanya.
Novel ini termasuk novel etnik berbau budaya jawa. Anda akan menjumpai banyak istilah dalam Bahasa Jawa. Tetapi jangan khawatir pihak penerbit sudah menyediakan terjemahannya di akhir setiap bab. Ini fenomena baru bagi saya, biasanya penjelasan arti dalam bentuk catatan kaki di bagian bawah halaman atau langsung diterjemahkan di samping kalimatnya. Keuntungan cara ini membuat pembaca tidak terganggu saat membaca dan sekaligus dapat merasakan budaya jawa lewat kata-katanya namun tetap masih bisa mengerti artinya.
Novel ini lebih banyak menggunakan narasi daripada dialog. Novel ini sarat isi. Jika menggunakan banyak dialog, akan membuat novel ini sangat tebal. Isi dalam novel ini bisa dikatakan dapat menambah perbendaharaan budaya jawa, khususnya mengenai pergerakan pabrik kretek di awal-awal berdirinya Indonesia. Mungkin ini adalah salah satu novel yang membuat rasa fiksi dan non-fiksi tercampur dalam satu buku. Saya bisa merasakan pergulatan fiksi pada cerita Soedrajat, Idroes dan Roemaisa dan pengetahuan tentang rokok lewat istilah-istilah dan cerita dinamika di pabrik rokok tersebut. Di Gadis Kretek, pencitraan tentang rokok kretek lebih mempesona saya daripada fiksinya. Mungkin karena jumlah dialog kurang? Lebih kental dengan narasi.

