Hits: 65
Azka Luthfiah Khalda
Pijar, Medan. Di usia yang masih tergolong muda, peluang untuk berkembang sejatinya terbuka sangat luas. Tidak hanya di dunia akademik, tetapi juga di bidang non-akademik yang memberi ruang bagi generasi muda untuk mengasah potensi diri dan menjelajahi pengalaman baru. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Helen dalam setiap langkahnya.
Di balik jas laboratorium dan tumpukan jurnal penelitian, tersimpan semangat besar dari Helen, mahasiswi Fakultas Farmasi (FF) Universitas Sumatera Utara (USU) yang pernah dinobatkan sebagai Most Outstanding Student 2024. Perjalanannya tidak berhenti di ruang kelas, ia menjejakkan kaki hingga ke Korea Selatan untuk menimba ilmu riset dan membawa nama kampus ke kancah internasional.
Semangat tersebut berakar dari satu kutipan yang selalu ia pegang teguh.
“Jangan tunggu kesempatan itu datang, tetapi buatlah kesempatan itu,” ungkapnya.
Kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat bagi Helen untuk tidak pasif menunggu peluang, melainkan berani menciptakan jalannya sendiri. Atas kerja keras dan inisiatifnya, ia membuktikan bahwa setiap mimpi bisa diwujudkan, ketika seseorang berani mengambil langkah pertama.
Tahun 2024 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Helen terpilih sebagai peserta Research Apprenticeship di Kyung Hee University, Korea Selatan. Program riset bergengsi ini adalah hasil kolaborasi antara Equity Outbound USU dan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) Riset. Selama tiga bulan, ia terlibat dalam penelitian di Department of Cancer Preventive Material Development, College of Korean Medicine.
Di sana, Helen tidak hanya belajar soal teori farmakologi, tetapi juga terjun langsung dalam beberapa eksperimen, seperti uji sitotoksisitas sel (cell cytotoxicity assay) dan imunoblot protein (western blot) untuk mendukung pengembangan obat berbasis bahan alami. Ia bekerja bersama tim internasional, berdiskusi, menulis laporan penelitian, hingga mempresentasikan hasil temuannya di hadapan para profesor.
Pengalaman belajar di negeri orang tentu bukan hal mudah. Helen mengaku sempat mengalami banyak emosi yang bercampur aduk selama awal masa penyesuaian.
“Rasanya campur aduk ada senang, penasaran, tapi juga sedih dan takut. Di bulan pertama aku belum terbiasa dengan rutinitas baru, orang-orang baru, dan perbedaan bahasa. Semuanya harus serba mandiri, kadang juga terasa homesick. Namun di bulan-bulan berikutnya, aku mulai bisa beradaptasi, menjelajahi berbagai tempat di sana, dan belajar banyak hal baru tentang budaya serta manajemen waktu,” ungkapnya.
Tidak hanya menorehkan prestasi di ruang kelas, Helen juga aktif memanfaatkan peluang belajar di luar negeri untuk memperluas wawasan serta memperkaya pengalaman hidupnya. Setiap proses yang dilalui menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan profesionalismenya.
Meski padat dengan kegiatan akademik dan penelitian, Helen juga aktif berorganisasi. Ia dipercaya menjadi Kepala Departemen Strategi dan Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FF. Selain itu, ia juga menjadi Koordinator Klub Inovasi Sains (Scientific Innovation Club) komunitas Intelligent Competitive Pharmacy Community (Incomphasco). Dalam memiliki dua peran ini, Helen dapat belajar memimpin tim, mengatur strategi, dan menginspirasi mahasiswa lain untuk berani berinovasi.
Kerja keras Helen juga tercermin lewat karya ilmiah yang berhasil menembus jurnal bereputasi internasional, berjudul “Frontiers in Aging dan Marine Drugs”. Ia meneliti potensi bahan alami, seperti peptida dari alga laut dan tanaman tradisional untuk terapi kanker serta pencegahan penyakit degeneratif.
Publikasi ilmiah tersebut menjadi bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa Indonesia dapat diakui di tingkat global. Helen percaya, penelitian bukan sekadar angka dan data, tetapi juga bentuk dedikasi terhadap kemanusiaan.
Di balik segala prestasi yang diraihnya, Helen tidak lupa untuk membagikan pesan bagi mahasiswa lain agar tetap berani bermimpi dan berproses.
“Buat teman-teman mahasiswa, jangan takut sama proses dan kegagalan. Kita semua sedang menempuh petualangan masing-masing. Jadi, habiskan jatah gagalmu dari sekarang. Ambil setiap kesempatan yang datang, cari mentor yang bisa membimbing langkahmu, dan dokumentasikan setiap prosesnya. Percaya deh, niat, aksi, dan keyakinan akan membawa kita ke tempat yang bahkan belum pernah kita bayangkan sebelumnya,” ucapnya.
Kisah Helen merupakan bukti nyata bahwa perpaduan antara kecemerlangan intelektual dan semangat petualangan, mampu melahirkan sosok muda yang berani mengambil risiko, berorientasi pada pengembangan diri, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

