Hits: 26
Febri Susi Novia Gea / Lowla Santa Claudia Manurung
Pijar, Medan. Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa layanan kesehatan mental harus menjadi bagian dari penanganan bencana dan keadaan darurat. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Akses ke Layanan Kesehatan Mental dalam Bencana dan Keadaan Darurat”. Tema ini menjadi seruan global agar negara-negara di dunia memberikan perhatian setara antara kesehatan fisik dan mental.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekitar 15-20% korban bencana mengalami gangguan emosional ringan hingga berat. Gejala yang sering muncul antara lain adalah gangguan tidur, kecemasan, perasaan putus asa, hingga depresi. Jika tidak segera ditangani, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau gangguan stres pasca trauma.
Lia Wulandari, selaku psikiater di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan, menjelaskan bahwa setiap luka batin yang dialami setiap korban juga penting.
“Evakuasi korban dan penanganan medis sangat penting, tetapi jangan lupa bahwa luka batin tidak kalah seriusnya. Korban yang kehilangan keluarga atau rumah seringkali membutuhkan waktu lama untuk pulih secara emosional. Kehadiran tenaga kesehatan jiwa di lokasi bencana bisa membantu mempercepat pemulihan korban,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mulai menerapkan program Psychological First Aid (PFA), atau pertolongan pertama psikologis di wilayah bencana. Program ini melibatkan tim psikolog, pekerja sosial, serta relawan kesehatan mental yang memberikan dukungan emosional dan konseling kepada para penyintas. Langkah ini terbukti efektif mengurangi gejala trauma jangka panjang dan membantu korban kembali beraktivitas secara normal.
Maria Gunawan, selaku relawan psikososial dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Jiwa Indonesia, mengatakan bahwa pemulihan mental harus seimbang dengan proses rekonstruksi.
“Tanpa pemulihan mental, proses rekonstruksi tidak akan berjalan optimal. Edukasi tentang kesehatan mental masih perlu diperluas, karena masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan jiwa sebagai hal tabu atau memalukan. Pemerintah daerah juga diimbau untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mental di puskesmas dan rumah sakit umum daerah,” ungkapnya.
Momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 diharapkan menjadi titik balik dalam memperkuat kesadaran, bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketersediaan tenaga psikolog dan konselor harus dipastikan agar masyarakat bisa mengakses layanan dengan mudah, terutama di daerah rawan bencana. Selain itu, pelatihan bagi tenaga relawan dan petugas tanggap darurat dalam memberikan dukungan psikologis dasar juga menjadi sebaiknya diperhatikan.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

