Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Wirasa, wiraga, wirama, wirupa. Keempat “wi” itu bisa dikatakan adalah pengetahuan dasar dalam dunia tari. Secara berurut berarti ekspresi raut muka sesuai dengan gerak tari, penguasaan gerak tari, irama dan dinamika seiring dengan musik, dan penampilan/kostum yang dikenakan. Tapi hal itu tentu sudah terlalu sering diulang dalam setiap pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Terlalu sering, sampai secara perlahan ia mulai kehilangan makna.

“Sekarang sudah tidak ada lagi panggung untuk tari-tari tradisi kita. Pada acara-acara adat sudah tidak dipakai lagi. Mungkin juga karena dulu sempat dianggap sudah terlalu jadul,” ujar seorang pegiat tari pagi itu.

Setiap harinya, tari berubah. Kemudian, tercipta lagi satu karya baru, lalu satunya lagi, dan lagi. Bukan hanya baru, namun ada juga yang diubah sana sini sehingga menghasilkan karya yang mengikuti perkembangan zaman. Namun, zaman berlari terlalu cepat sampai beberapa jenis tari terseok-seok berusaha mengejar atau bahkan ada yang memilih berhenti. Diam. Dilupakan bersama penarinya.

Mana mungkin ada tari yang punah. Kau yakin?

Indonesia

Sebelum kita jauh berkelana ke pulau lain, bukankah lebih baik menilik kekayaan daerah sendiri? Zapin Labuhan, Tari Hadrah. Kedua nama itu memang benar sebuah tarian dan bukan karangan. Sebuah seni asli dari kawasan Pekan Labuhan. Tetapi apakah masih ada yang tau jenis tari ini? Bagaimana ragamnya, cara menarikannya, kostum apa yang dipakai, musik seperti apa yang mengiringinya?

Generasi yang cinta akan seni tari sangat banyak, hanya saja mereka tidak mengenal tari tradisi, Tidak ada yang mengenalkannya pada mereka. (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi Narasumber)

Irfansyah, seorang pemilik sanggar tari Nursindo yang juga berprofesi sebagai koreografer asal Pekan Labuhan. Beberapa waktu lalu beliau berhasil merekonstruksi kembali 8 Tari Lenggok Gambus Pekan Labuhan atau yang sering disebut Zapin Labuhan. Alasan tari ini perlahan hilang dan dilupakan ternyata amat sederhana menurutnya.

“Tidak ada lagi panggung untuk tari-tari tradisi kita.”

Sebagai orang yang telah bergelut di dunia seni tari cukup lama, mulai dari menjadi penari, pelatih tari, dan kini memiliki sanggar tari membuatnya merasa bahwa hidupnya bergantung pada dunia kesenian. Berusaha memberi kesempatan kedua pada sesuatu yang telah membesarkannya adalah satu dari sekian cara yang dirasa Irfan bisa ia lakukan.

“Saya hanya tamat SMA, tidak punya titel dan jabatan yang tinggi. Tapi saya ingin jika saya sudah tidak ada nanti orang masih tetap mengingat saya. Saya juga ingin berbakti untuk dunia tari,” ujar Irfan.

Inilah yang kemudian membuatnya menggali tari-tarian yang sudah atau nyaris punah. Dimulai dari kawasan tempat tinggalnya terlebih dahulu, Pekan Labuhan. Saat ini beliau sedang berusaha untuk mengembalikan Tari Hadrah. Kata Hadrah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti rebana kecil, sesuai dengan alat musik yang digunakan sebagai pengiring.

Tari hadrah adalah salah satu jenis tari Melayu yang ada di Sumatera Utara. Tari ini biasanya ditarikan dengan cara duduk satu saf layaknya tari Saman. Kemudian semua penari ikut bernyanyi (koor) dengan 1 orang penyanyi yang melantunkan lagu berbahasa Arab yang isinya merupakan puji-pujian kepada Nabi dan Rasul. Alat musik pengiringnya sendiri disebut gendang hadrah atau sejenis kompang (Gendang khas Melayu).

Hanya itu?

Dunia

Kamboja memiliki sebuah tari topeng yang hampir disapu bersih pada rezim Khmer Rouge. Untungnya beberapa seniman dengan sigap berusaha menghidupkan kesenian ini lagi dan menurunkannya dari satu generasi ke generasi lainnya. Dilansir dari bangkokpost.com, dahulu pada tahun 1970an mempelajari tari topeng Lakhon Khol atau hampir semua jenis kesenian dilarang untuk dipelajari.

“Pada rezim Khmer Rouge, ketika aku masih muda dan tidak ada satupun yang bisa mengajarkan tari, Lakhon Khol hancur,” ujar Sun Rithy salah satu seniman yang masih aktif mengajarkan Lakhon Khol setelah rezim berakhir kepada bangkokpost.com.

Di India ada juga sebuah pertunjukan tari topeng yang biasa ditarikan oleh petani Bengal Barat untuk menyambut musim panen, juga terancam punah. Purulia Chhau namanya. Jenis tarian yang menggunakan topeng dengan ragam gerak yang kuat dengan elemen akrobatik dan bela diri, biasanya dilakukan dengan ketukan tribal drums.

Berdasarkan data yang ada pada india.blogs.nytimes.com, pada 2012, jumlah orang yang menarikan Purulia Chhau telah turun dari 300 menjadi 100 di area asalnya. Alasannya? Kurang pendanaan, peluang kerja yang kurang menjanjikan, serta perubahan gaya hidup di wilayah itu.

Terlalu banyak seni yang hilang dan dilupakan. Seakan tak pernah ada, padahal mereka turut menggores nama di sejarah. Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk mulai menilik ke belakang dan memberi kehidupan kedua pada setiap tari yang kehilangan panggungnya?

Agar semua sejalan seperti tujuan awal, Hari Tari Sedunia pun dibuat. Peringatan tersebut diperuntukkan khusus untuk merayakan tari, sebuah bentuk kesenian yang tidak memandang batas, bahkan menyatukan semua orang dengan bahasa paling sederhana (tarian).

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment