Hits: 36

Dhea Chintya

Pijar, Medan. Pernahkah kamu mendengar tentang teh Kombucha? Sebuah minuman berwarna keemasan, sedikit keruh, dan acap kali berbuih ketika dibuka. Teh ini merupakan hasil fermentasi yang mengandung asam asetat, asam laktat, ragi, dan berbagai zat lainnya.

Awal mula Kombucha berasal dari Tiongkok sekitar 220 SM pada masa Dinasti Qin. Pada saat itu, minuman ini disebut dengan “teh keabadian karena diyakini dapat memberi umur panjang dan kesehatan. Pada abad ke-5, Kombucha dibawa oleh tabib Korea bernama Dr. Kombu ke Jepang untuk mengobati seorang Kaisar, sehingga lahir istilah “Kombucha”.

Minuman ini kemudian menyebar ke Rusia pada abad ke-19 dengan nama Chaynyy Grib atau “jamur teh”, lalu ke Eropa dan Amerika pada abad ke-20. Kini, Kombucha populer secara global sebagai minuman probiotik yang identik dengan gaya hidup sehat.

Hal unik dari pembuatan Kombucha adalah penggunaan biang berupa Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) yang bekerja dalam proses fermentasi teh dan gula, hingga berubah menjadi Kombucha. SCOBY atau koloni bakteri dan ragi tersebut berbentuk seperti jamur tebal berwarna kecoklatan. Ketika teh manis dituangkan dan dibiarkan bersama SCOBY selama beberapa hari, proses fermentasi akan berlangsung dan menghasilkan cairan yang terasa asam segar, sedikit manis, dan berkarbonasi alami seperti soda.

Kombucha, Minuman Fermentasi Beralkohol yang Memiliki Berbagai Khasiat - www.mediapijar.com
Wujud SCOBY dalam Kombucha
(Sumber Foto: simplyrecipes.com)

 

Menariknya, setiap kali fermentasi selesai, SCOBY akan menghasilkan lapisan baru yang biasa disebut dengan “anak SCOBY”. Anak ini bisa digunakan kembali untuk membuat Kombucha berikutnya. Setiap ada siklus regenerasi tersebut, para pencinta Kombucha akan merawat SCOBY tersebut layaknya makhluk hidup.

Salah satu daya tarik Kombucha adalah sifatnya yang unik di setiap proses pembuatan. Tidak ada Kombucha yang rasanya persis sama. Faktor seperti suhu ruangan, durasi fermentasi, hingga kekuatan SCOBY akan memengaruhi hasil akhir. Adapun Kombucha yang rasanya cenderung asam pekat, hingga yang lebih manis dan lembut.

Selain itu, banyak produsen maupun pembuat rumahan menambahkan buah dan rempah dalam proses fermentasi kedua untuk memberikan sentuhan rasa baru. Hasilnya, berbagai rasa Kombucha dapat ditemukan, seperti rasa jahe, lemon, beri, bahkan rasa unik seperti lavender dan rosela.

Kombucha juga mengandung sedikit alkohol alami karena adanya proses fermentasi dari Kombucha tersebut, biasanya berkisar antara 0,5-2%. Oleh karena itu, di beberapa negara, olahan teh ini harus diberi label khusus jika memiliki kadar alkohol lebih dari 0,5%.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Kombucha baik untuk kesehatan, mulai dari meningkatkan pencernaan, mendetoks kotoran yang ada di tubuh, hingga memperkuat daya tahan tubuh. Hal ini terjadi karena Kombucha kaya akan probiotik, asam organik, dan antioksidan dari teh.

Meskipun Kombucha kaya akan zat-zat baik untuk tubuh, perlu diperhatikan lagi cara menyimpan dan mengonsumsi dengan takaran yang aman. Mengonsumsi Kombucha dengan takaran yang berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang membahayakan, seperti asidosis laktat hingga mengiritasi lambung, terutama bagi penderita maag atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Wajarnya, teh ini dapat dikonsumsi sekitar 120-240 ml per hari. Namun, untuk orang-orang dengan kondisi tertentu seperti ibu hamil, orang dengan sistem imun yang lemah, penderita maag, pasien liver/ginjal, sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi Kombucha. Bagaimana? Apakah Anda tertarik mencobanya sendiri?

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment