Hits: 139
Hanina Afifah
Pijar, Medan. Kerap disebut sebagai “bolu ikan” karena bentuk khasnya yang menyerupai ikan, ternyata penganan kuning keemasan ini menyimpan jejak sejarah berharga. Bernamakan Kue Bhoi, kuliner tradisional khas Aceh ini bukan sekadar manis di lidah, tetapi juga sarat makna budaya. Siapa sangka, kue sederhana yang kini bisa dinikmati bersama teh atau kopi ini dulunya hanya disajikan untuk kalangan bangsawan, dan menjadi bagian sakral dalam upacara adat pernikahan di Tanah Rencong.
Perjalanan panjang Kue Bhoi dimulai dari istana-istana bangsawan Aceh pada masa lampau. Dalam tradisi masyarakat Aceh, Kue Bhoi memiliki kedudukan istimewa sebagai bagian dari seserahan pernikahan. Menariknya lagi, pada masa itu, kue ini menjadi privilese eksklusif kalangan bangsawan, hanya orang-orang dengan status sosial tertentu yang boleh menikmatinya. Bayangkan betapa berharganya sebuah kue ketika kehadirannya menjadi simbol kemewahan dan kehormatan.
Sekarang ini, perjalanan waktu telah mengubah segalanya. Kini, status Kue Bhoi telah merakyat dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Berbagai temuan menunjukkan bahwa Kue Bhoi telah bertransformasi menjadi makanan yang mudah dijumpai di berbagai tempat. Tak hanya di Aceh, kue ini dapat ditemui di pasar oleh-oleh Medan, Padang, Jakarta, bahkan sampai menjadi buah tangan para jamaah haji di tanah suci. Transformasi ini menunjukkan bagaimana kuliner tradisional dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Adapun rahasia kelezatan Kue Bhoi terletak pada kesederhanaan bahan-bahannya. Mulai dari tepung terigu, dan telur ayam ataupun telur bebek untuk rasa yang lebih gurih, gula, vanili, dan soda kue menjadi bahan dasar yang sederhana, tetapi menghasilkan cita rasa luar biasa. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan utama Kue Bhoi, membuktikan bahwa kelezatan sejati tak harus berbahan mewah, melainkan berasal dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar kita.
Beragamnya bentuk Kue Bhoi juga menjadi daya tarik tersendiri, mulai dari bentuk binatang seperti ikan, bintang, hingga bunga. Ragam tersebut memberikan ciri khas tersendiri, sehingga masyarakat mempunyai bayangan unik di dalam benak mereka bila mengingat kue ini.
Tak hanya sekadar ragam bentuknya yang menarik mata, inovasi terbaru yang diungkap oleh Sulastri, dkk. (2023), menemukan bahwa penambahan kadar gula pada Kue Bhoi dapat menambah masa simpan yang semula hanya 3-4 hari, kini bisa diperpanjang hingga 25-30 hari tanpa pengawet kimia. Rahasia di balik keajaiban ini terletak pada fungsi ganda gula sebagai pemanis, sekaligus pengawet alami melalui teknik penggulaan tradisional.
Di balik kelezatannya, Kue Bhoi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang signifikan. Di berbagai daerah di Aceh, usaha Kue Bhoi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Kini, menikmati Kue Bhoi tidak lagi memerlukan perjalanan jauh ke Aceh. Jika tak menemukannya di kota tempatmu tinggal, memesan lewat e-commerce dapat menjadi salah satu solusi. Dengan beragam pilihan rasa, bentuk, dan harga yang ditawarkan, kamu tetap bisa merasakan kelezatan khas Kue Bhoi tanpa harus bepergian. Cukup duduk manis di rumah, tunggu pesananmu datang, dan nikmati cita rasanya.

(Sumber Foto: YouTube resep bunda aan)
Bagi yang ingin merasakan pengalaman lebih otentik, membuat Kue Bhoi sendiri di rumah tentu menjadi pilihan menarik. Proses membuatnya tidak hanya menghasilkan camilan lezat, tetapi juga memberikan pengalaman budaya yang berharga. Setiap tahap pembuatan, dari mencampur adonan hingga menunggu selesai dipanggang, menjadi momen berharga untuk memahami kearifan kuliner lokal.
Melalui sensasi lembut nan manis di setiap gigitan, terkandung cerita panjang tentang perjalanan sejarah dan cita rasa yang tak lekang oleh waktu. Kue Bhoi bukan hanya tentang rasa manis yang memanjakan lidah, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya, memberdayakan ekonomi lokal, dan memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia ke kancah dunia. Siapa yang sangka, ‘bolu ikan’ sederhana yang sering kita jumpai ternyata menyimpan begitu banyak makna berharga!
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

