Hits: 34
Zoraya Balqis
Pijar, Medan. Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni 2025 mengusung tema global, yaitu “Ending Plastic Pollution” atau “Hentikan Polusi Plastik”. Selama beberapa tahun, polusi plastik menjadi permasalahan yang menyebar di seluruh penjuru dunia. Polusi tersebut mencemari kandungan yang terdapat di dalam minuman dan makanan yang kita konsumsi di kehidupan sehari-hari.
Sejak tahun 1972, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Penyelenggaraan pertama diadakan pada tahun 1973, dengan slogan yang bertajuk “Hanya Satu Bumi”.
Pada perayaan tahun-tahun berikutnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia berproses sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global terkait maraknya masalah yang terjadi di lingkungan sekitar, seperti polusi udara, polusi plastik, ketahanan pangan, dan lain sebagainya.
Diarahkan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) sejak pendiriannya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi seruan global untuk melibatkan khalayak yang luas di lebih dari 150 negara dalam menangani isu-isu lingkungan yang marak terjadi.
Di Indonesia sendiri, permasalahan polusi plastik menjadi hal krusial yang diperbincangkan masyarakat. Salah satu inovasinya adalah plastik yang dapat terurai dalam waktu yang relatif singkat, yaitu plastik biodegradable sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi limbah plastik di masyarakat.
Sejalan dengan hal ini, Yuli Efriani selaku pendiri komunitas Seabolga yang berfokus pada lingkungan, khususnya isu sampah plastik dan sampah laut di pesisir Sibolga, menyatakan bahwa perlu adanya kewaspadaan dalam memilih plastik biodegradable yang aman dan higienis untuk digunakan masyarakat.
“Di Indonesia, banyak plastik biodegradable yang saya temui. Tetapi, jika harganya lebih murah, perlu diperiksa kembali apakah kandungan dari plastik tersebut sepenuhnya murni dari tumbuhan atau tidak. Karena justru, plastik biodegradable yang tidak alami 100% lebih berbahaya daripada plastik yang umumnya kita gunakan di kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Yuli juga mengungkapkan bahwa dengan kehadiran plastik biodegradable ini, masyarakat dapat menggunakan inovasi tersebut tidak hanya sebagai ajang untuk meraup keuntungan bisnis, tetapi juga murni memanfaatkannya menjadi inovasi yang dapat menjaga keseimbangan lingkungan sekitar.
Ia menyampaikan pesan untuk generasi muda agar mereka untuk sadar bahwa hubungan dependensi antara manusia dengan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Ketika lingkungan mengalami gangguan, manusia juga akan merasakan hal demikian.
“Saya berharap, anak muda sadar bahwa ada konektivitas yang sangat besar antara diri kita dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan sama sekali. Ketika lingkungan kita rusak, kita juga bergantung dan merasakan dampak tersebut. Harus ada timbal balik antara kita dengan lingkungan,” tuturnya.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

