Hits: 95
Humas Konferensi Penyiaran
Pada Jumat (10/2/23), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan Talkshow dan Official Launch Konferensi Penyiaran 2023. Acara yang berlokasi di Aula FISIP ini merupakan acara pembuka dari rangkaian kegiatan menuju puncak Konferensi Penyiaran 2023.
Kegiatan ini menghadirkan Mohamad Reza selaku Komisioner KPI Pusat, Bono Setyo selaku dosen UIN Sunan Kalijaga, Yovita S. Sitepu selaku dosen USU, dan Khairiah Lubis selaku produser Lembaga penyiaran DAAI TV.
Tantangan pascadigitalisasi penyiaran di Indonesia menjadi topik perbincangan pada gelar wicara (talkshow) ini. Hal itu merujuk pada Undang-Undang No 11 tahun 2020 pasal 60A, yang berbunyi penyelenggaraan penyiaran dilaksanakan dengan mengikuti perkembangan teknologi analog ke digital. Saat ini, Indonesia telah melakukan langkah awal untuk digitalisasi penyiaran yang ditandai dengan Analog Switch Off (ASO) atau pemberhentian siaran analog dalam industri penyiaran untuk beralih ke teknologi siaran digital.
Digitalisasi penyiaran berbicara mengenai pertumbuhan televisi (TV) digital yang diprediksi jumlahnya akan bertambah dua kali lipat dari jumlah lembaga penyiaran saat ini. Hal itu diulik dan dibahas langsung oleh Mohamad Reza selaku Komisioner KPI Pusat. Ia mengatakan, tantangan yang akan dihadapi pascadigitalisasi penyiaran ini adalah sumber daya manusia, konten, dan model pengawasannya.
Selain itu, TV digital juga bersaing dengan media baru atau internet. Hal ini menjadi tantangan lain yang datang dari luar. “Jika diliat dari data Nielsen, perkembangan televisi dan media baru penetrasinya itu nampak seperti beririsan. Konsumsi televisi mengalami penuruan, sedangkan di media baru atau internet terjadi penaikan. Berbeda dengan radio yang berada pada angka yang sama. Kalau TV dan internet atau media baru, yang satu mengalami penaikan yang satu mengalami penurunan,” jelas Mohamad Reza.
Lain halnya dari sudut pandang masyarakat. Tantangan pascapenyiaran digital ini lebih mengarah kepada konsumsi konten. Kemungkinan banyaknya berita hoaks di kalangan masyarakat sangatlah tinggi. Hal ini juga yang menjadi tantangan para akademisi dan praktisi untuk meningkatkan literasi media dan literasi digital di kalangan masyarakat.
Bono Setyo mengungkapkan bahwasanya saat ini masyarakat sedang berfokus pada internet hingga membuat masyarakat semakin sulit untuk memilah dan memilih konten yang akan dikonsumsi.
Menilik dari perspektif lembaga penyiaran, tantangan yang dihadapi berbeda pula. Konten yang diproduksi olehnya atau konten yang bersifat lokal harus bersaing dengan konten-konten menarik yang banyak terpublikasi di televisi digital. Namun, dengan adanya televisi digital, kualitas gambar yang ditampilkan akan lebih baik atau lebih jernih.
Talkshow dan Official Launch Konferensi Penyiaran 2023 dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat mulai dari mahasiswa, praktisi, dosen, sampai awak media. Kegiatan ini turut dimeriahkan dengan pemutaran video launching Konferensi Penyiaran 2023 dan pemberian suvenir kepada para pembicara.
***
Sekilas tentang Konferensi Penyiaran 2023
Konferensi Penyiaran merupakan kegiatan tahunan Komisi Penyiaran Indonesia yang melibatkan dua belas universitas mitra KPI, yaitu Universitas Sumatera Utara, Universitas Udayana, Universitas Andalas, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Tanjung Pura, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Hasanuddin, Universitas Pattimura, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Negeri Surabaya, dan UPN Veteran Jakarta. Pada 2023, Konferensi Penyiaran bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara dan akan dilaksanakan di Sumatra Utara juga.
Konferensi Penyiaran 2023 akan dilaksanakan pada Juli 2023 dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti kompetisi, call for paper, dan berbagai pre-event lainnya. Rangkaian ini tidak hanya menargetkan para praktisi dan akademisi, tetapi juga mahasiswa, siswa SMA, dan masyarakat umum.

